Cara Membaca Candlestick Saham: Panduan Lengkap untuk Pemula

Cara Membaca Candlestick Saham: Panduan Lengkap untuk Pemula

Cara membaca candlestick saham merupakan salah satu kemampuan dasar yang penting bagi investor dan trader. Dengan memahami candlestick, kita dapat melihat bagaimana harga saham bergerak dalam suatu periode, mulai dari harga pembukaan, harga tertinggi, harga terendah, hingga harga penutupan.

Candlestick tidak hanya menunjukkan apakah harga saham naik atau turun. Bentuk candle juga dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan pembeli dan penjual, tekanan jual atau beli, serta kemungkinan perubahan arah harga.

Karena itu, candlestick banyak digunakan dalam analisis teknikal saham, terutama untuk membantu menentukan waktu masuk atau keluar dari suatu saham.

Namun, candlestick bukan alat untuk memastikan harga saham akan naik atau turun. Pola candlestick sebaiknya dibaca bersama tren, volume, support, resistance, dan indikator teknikal lainnya.

candlestick
Arti candlestick hijau dan merah. Adit Saputra/Mediasaham.com

Apa Itu Candlestick Saham?

Candlestick saham adalah bentuk grafik yang digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga saham dalam periode tertentu.

Menurut OJK, analisis candlestick pattern merupakan metode analisis yang melihat pola berbentuk batang lilin berdasarkan empat data harga, yaitu Open, High, Low, dan Close.

Sederhananya, satu candlestick menjawab empat pertanyaan:

  1. Harga dibuka di berapa?
  2. Harga tertinggi mencapai berapa?
  3. Harga terendah berada di berapa?
  4. Harga ditutup di berapa?

Contohnya, jika kita menggunakan timeframe harian, maka satu candlestick mewakili satu hari perdagangan.

Jika menggunakan timeframe 1 jam, maka satu candlestick mewakili pergerakan harga selama satu jam.

Jika menggunakan timeframe 5 menit, maka satu candlestick menunjukkan pergerakan harga selama lima menit.

Empat Komponen Utama Candlestick

Agar bisa membaca candlestick saham, pertama-tama kita harus memahami empat istilah dasar:

  • Open
  • High
  • Low
  • Close

Keempatnya sering disebut OHLC.

1. Open

Open adalah harga ketika perdagangan dimulai pada periode tersebut.

Misalnya saham ABC dibuka pada harga Rp1.000.

Maka harga Rp1.000 tersebut adalah harga Open.

2. High

High adalah harga tertinggi yang dicapai saham selama periode tersebut.

Misalnya saham dibuka pada Rp1.000 kemudian naik sampai Rp1.080.

Maka Rp1.080 merupakan harga High.

3. Low

Low adalah harga terendah yang dicapai saham selama periode tersebut.

Jika saham sempat turun sampai Rp970, maka Rp970 merupakan harga Low.

4. Close

Close adalah harga terakhir ketika periode perdagangan berakhir.

Misalnya saham akhirnya ditutup pada Rp1.050.

Maka Rp1.050 merupakan harga Close.

Jadi, misalnya:

Data Harga
Open Rp1.000
High Rp1.080
Low Rp970
Close Rp1.050

Dari empat angka tersebut kemudian terbentuk satu candlestick.

Cara Membaca Bentuk Candlestick

Satu candlestick pada dasarnya terdiri dari dua bagian utama:

  1. Body atau badan candle
  2. Shadow atau wick atau sumbu candle

Body

Body adalah bagian tebal dari candlestick yang menunjukkan jarak antara harga Open dan Close.

Jika Close lebih tinggi daripada Open, candle menunjukkan kenaikan harga.

Jika Close lebih rendah daripada Open, candle menunjukkan penurunan harga.

Shadow atau Wick

Shadow adalah garis yang berada di atas atau di bawah body.

Shadow menunjukkan harga tertinggi dan terendah yang sempat dicapai selama periode tersebut.

Dengan demikian, bentuk sederhana candlestick adalah:

  • High → Shadow atas
  • Open/Close → Body
  • Low → Shadow bawah

Candlestick Hijau dan Merah

Pada banyak aplikasi trading saham, candle biasanya menggunakan warna hijau dan merah.

Namun, warna dapat berbeda tergantung pengaturan aplikasi.

Candlestick Hijau

Candlestick hijau biasanya menunjukkan:

Close > Open

Artinya harga ditutup lebih tinggi dibandingkan harga pembukaan.

Contoh:

Open = Rp1.000
Close = Rp1.100

Harga mengalami kenaikan Rp100.

Candle akan terlihat sebagai candle naik atau bullish.

Candlestick Merah

Candlestick merah biasanya menunjukkan:

Close < Open

Artinya harga ditutup lebih rendah dibandingkan harga pembukaan.

Contoh:

Open = Rp1.000
Close = Rp900

Harga mengalami penurunan Rp100.

Candle akan terlihat sebagai candle turun atau bearish.

Catatan: Jangan hanya menghafalkan warna. Yang paling penting adalah memahami hubungan antara Open dan Close.

Contoh Membaca Satu Candlestick

Misalnya saham XYZ memiliki data:

  • Open: Rp2.000
  • High: Rp2.150
  • Low: Rp1.950
  • Close: Rp2.100

Bagaimana membacanya?

Pertama, saham dibuka pada Rp2.000.

Kemudian selama perdagangan harga sempat turun sampai Rp1.950.

Setelah itu harga naik dan mencapai Rp2.150.

Pada akhir periode, saham ditutup pada Rp2.100.

Karena:

Close Rp2.100 > Open Rp2.000

maka candle tersebut merupakan candle naik.

Dari satu candle tersebut kita sudah mendapatkan informasi mengenai pertarungan antara pembeli dan penjual selama periode tersebut.

Apa Arti Body Candlestick?

Panjang pendeknya body juga penting.

Body Panjang

Body yang panjang menunjukkan pergerakan antara Open dan Close yang relatif besar.

Misalnya saham:

Open Rp1.000
Close Rp1.150

Perbedaannya Rp150.

Hal ini menunjukkan pergerakan harga yang cukup kuat dalam periode tersebut.

Candle bullish dengan body panjang dapat menunjukkan dominasi pembeli.

Sebaliknya, candle bearish dengan body panjang dapat menunjukkan tekanan penjual yang kuat.

Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa harga pasti akan melanjutkan arah tersebut.

Kita tetap perlu melihat posisi candle terhadap tren dan level support atau resistance.

Body Pendek

Body pendek menunjukkan bahwa perbedaan antara Open dan Close relatif kecil.

Misalnya:

Open Rp1.000
Close Rp1.010

Perbedaannya hanya Rp10.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa harga pembukaan dan penutupan relatif dekat.

Pasar dapat menunjukkan keraguan atau keseimbangan sementara antara pembeli dan penjual.

Apa Arti Shadow atau Wick?

Shadow juga memberikan informasi penting.

Shadow Atas Panjang

Shadow atas yang panjang berarti harga sempat naik cukup tinggi tetapi kemudian mengalami tekanan jual sehingga turun kembali dari level tertinggi tersebut.

Contoh:

Open Rp1.000
High Rp1.150
Close Rp1.030

Harga sempat naik sampai Rp1.150 tetapi akhirnya hanya ditutup pada Rp1.030.

Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan jual setelah harga naik.

Shadow Bawah Panjang

Shadow bawah yang panjang berarti harga sempat turun cukup dalam tetapi kemudian mendapatkan tekanan beli sehingga harga kembali naik.

Contoh:

Open Rp1.000
Low Rp900
Close Rp980

Harga sempat turun ke Rp900 tetapi kemudian naik kembali dan ditutup di Rp980.

Ini dapat menunjukkan adanya respons pembeli pada harga yang lebih rendah.

Cara Membaca Candlestick untuk Melihat Kekuatan Pembeli dan Penjual

Salah satu tujuan membaca candlestick adalah memahami siapa yang lebih dominan antara pembeli dan penjual.

Secara sederhana:

  • Pembeli kuat → harga cenderung terdorong naik
  • Penjual kuat → harga cenderung terdorong turun

Tetapi kekuatan tersebut harus dilihat dari keseluruhan konteks.

Misalnya candle hijau panjang muncul setelah harga mengalami penurunan panjang.

Hal tersebut bisa menunjukkan pembeli mulai masuk.

Namun, jika candle hijau yang sama muncul tepat di bawah resistance kuat, kita tetap perlu berhati-hati karena harga dapat kembali ditolak.

Jenis Candlestick yang Perlu Dipahami Pemula

Tidak semua candlestick harus dihafalkan.

Untuk pemula, lebih baik memahami beberapa bentuk utama terlebih dahulu.

1. Bullish Candle

Bullish candle menunjukkan bahwa harga ditutup lebih tinggi daripada harga pembukaan.

Biasanya ditampilkan dengan warna hijau.

Contoh sederhana:

Open Rp1.000
Close Rp1.100

Artinya:

Close > Open

2. Bearish Candle

Bearish candle menunjukkan bahwa harga ditutup lebih rendah daripada harga pembukaan.

Biasanya ditampilkan dengan warna merah.

Contoh:

Open Rp1.000
Close Rp900

Artinya:

Close < Open

3. Doji

Doji adalah candlestick ketika harga Open dan Close berada pada level yang sama atau sangat berdekatan.

Bentuknya dapat menyerupai tanda tambah.

Doji sering dikaitkan dengan kondisi keraguan atau keseimbangan sementara antara pembeli dan penjual.

Tetapi doji tidak otomatis berarti harga akan berbalik arah.

Posisinya harus diperhatikan.

Doji setelah kenaikan panjang memiliki konteks berbeda dengan doji ketika harga sedang sideways.

Pola Candlestick penting
Berbagai pola candlestick. Dokumentasi Mediasaham.com

Pola Candlestick yang Sering Digunakan

Setelah memahami satu candle, kita dapat mempelajari pola yang terdiri dari satu atau beberapa candle.

Beberapa pola candlestick yang populer antara lain:

  • Doji
  • Hammer
  • Inverted Hammer
  • Shooting Star
  • Hanging Man
  • Engulfing
  • Morning Star
  • Evening Star
  • Harami

OJK juga menjelaskan bahwa analisis candlestick merupakan salah satu bagian dari analisis teknikal yang menggunakan data Open, High, Low dan Close untuk membaca pola harga.

Apa Itu Hammer?

Hammer adalah pola candlestick yang memiliki body relatif kecil dengan shadow bawah yang panjang.

Secara visual, bentuknya menyerupai palu.

Hammer biasanya lebih menarik perhatian ketika muncul setelah harga mengalami penurunan.

Mengapa?

Karena harga sempat turun cukup dalam, tetapi kemudian mendapatkan tekanan beli sehingga kembali mendekati harga pembukaan atau penutupan.

Namun, hammer bukan berarti harga pasti naik.

Trader biasanya menunggu konfirmasi dari candle berikutnya, volume, support, atau indikator lainnya.

Apa Itu Shooting Star?

Shooting star memiliki body relatif kecil dan shadow atas yang panjang.

Pola ini sering diperhatikan ketika muncul setelah harga mengalami kenaikan.

Logikanya sederhana:

  • Harga sempat naik cukup tinggi.
  • Kemudian penjual masuk.
  • Harga turun kembali.

Hal tersebut dapat menunjukkan adanya tekanan jual di area harga yang lebih tinggi.

Tetapi sekali lagi, pola tersebut tidak boleh dibaca sendirian.

Apa Itu Bullish Engulfing?

Bullish engulfing merupakan pola yang terdiri dari dua candle.

Secara umum, candle kedua yang bullish memiliki body yang lebih besar sehingga menutupi body candle bearish sebelumnya.

Pola ini sering diperhatikan setelah harga mengalami penurunan karena dapat menunjukkan meningkatnya tekanan beli.

Namun, sinyal akan lebih menarik jika muncul di area support dan didukung volume yang memadai.

Apa Itu Bearish Engulfing?

Bearish engulfing merupakan kebalikan dari bullish engulfing.

Pola ini biasanya terdiri dari:

  1. Candle bullish.
  2. Kemudian candle bearish dengan body yang lebih besar.

Pola tersebut dapat menunjukkan meningkatnya tekanan jual.

Jika muncul setelah kenaikan harga dan berada dekat resistance, trader biasanya akan lebih memperhatikan kemungkinan perubahan arah.

Cara Membaca Candlestick Berdasarkan Tren

Kesalahan pemula yang sering terjadi adalah melihat satu candlestick tanpa melihat tren.

Padahal, candlestick harus dibaca berdasarkan konteks.

Ada tiga kondisi dasar:

Uptrend

Harga membentuk kecenderungan naik.

Secara sederhana:

Higher High + Higher Low

Downtrend

Harga membentuk kecenderungan turun.

Secara sederhana:

Lower High + Lower Low

Sideways

Harga bergerak dalam rentang tertentu dan belum menunjukkan arah yang jelas.

Karena itu, satu pola candlestick dapat memiliki arti berbeda tergantung posisi dan tren saham tersebut.

Candlestick dan Support

Support adalah area yang sering menjadi tempat harga mendapatkan tekanan beli.

Misalnya sebuah saham beberapa kali mengalami penurunan tetapi selalu memantul di sekitar Rp1.000.

Maka area Rp1.000 dapat diperhatikan sebagai support.

Jika kemudian muncul hammer di sekitar support, trader mungkin melihatnya sebagai sinyal yang menarik.

Tetapi tetap diperlukan konfirmasi.

Candlestick dan Resistance

Resistance merupakan area yang sering menjadi tempat harga mendapatkan tekanan jual.

Misalnya saham beberapa kali gagal melewati Rp1.500.

Maka Rp1.500 dapat menjadi area resistance.

Jika kemudian muncul shooting star di dekat resistance, kondisi tersebut dapat menjadi perhatian karena menunjukkan harga sempat naik tetapi mendapatkan tekanan jual.

Candlestick dan Volume

Candlestick akan lebih informatif jika dibaca bersama volume.

Volume menunjukkan jumlah saham yang diperdagangkan dalam suatu periode.

Contohnya:

Harga naik dengan candle bullish yang besar dan volume meningkat.

Kondisi tersebut dapat memberikan gambaran bahwa kenaikan mendapatkan aktivitas transaksi yang cukup besar.

Sebaliknya, candle breakout tanpa dukungan volume perlu diperhatikan lebih hati-hati.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Candlenya hijau atau merah?”

Tetapi juga:

“Berapa volumenya?”

Apa Itu Breakout dalam Candlestick?

Breakout terjadi ketika harga berhasil menembus area penting seperti resistance atau support.

Contohnya saham bergerak beberapa kali di bawah Rp1.000.

Kemudian harga naik dan ditutup di atas Rp1.000.

Jika disertai volume yang meningkat, kondisi tersebut dapat menjadi perhatian trader.

Tetapi breakout juga dapat menjadi false breakout.

Artinya harga sempat menembus level penting tetapi kemudian kembali masuk ke area sebelumnya.

Karena itu, candle penutupan dan volume menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Cara Membaca Candlestick Saham untuk Pemula

Berikut cara sederhana yang dapat digunakan pemula.

Langkah 1: Tentukan Timeframe

Pertama tentukan periode yang ingin dianalisis.

Contohnya:

  • 5 menit
  • 15 menit
  • 1 jam
  • 4 jam
  • Harian
  • Mingguan

Untuk investor atau trader saham, timeframe harian sering menjadi titik awal yang lebih mudah dipahami.

Langkah 2: Lihat Tren

Jangan langsung mencari pola candlestick.

Lihat terlebih dahulu apakah saham sedang:

  • Naik
  • Turun
  • Sideways

Langkah 3: Tandai Support dan Resistance

Cari area harga yang beberapa kali menjadi titik pantulan atau penolakan.

Dengan demikian kita mengetahui posisi candle.

Langkah 4: Perhatikan Bentuk Candle

Setelah memahami tren dan level harga, lihat candle yang muncul.

Perhatikan:

  • Panjang body
  • Shadow atas
  • Shadow bawah
  • Posisi Close
  • Hubungan dengan candle sebelumnya

Langkah 5: Periksa Volume

Lihat apakah pergerakan harga didukung volume.

Volume yang meningkat dapat memberikan informasi tambahan mengenai aktivitas transaksi.

Langkah 6: Tunggu Konfirmasi

Jangan terburu-buru membeli hanya karena menemukan satu pola candlestick.

Misalnya muncul hammer.

Daripada langsung membeli, trader dapat menunggu apakah candle berikutnya memberikan konfirmasi kenaikan.

Cara ini membantu mengurangi risiko mengambil keputusan hanya berdasarkan satu sinyal.

Contoh Sederhana Membaca Candlestick

Misalnya saham ABC mengalami penurunan dari Rp1.500 ke Rp1.100.

Kemudian harga mencapai area support Rp1.100.

Pada hari berikutnya terbentuk candle dengan:

  • Open Rp1.120
  • High Rp1.150
  • Low Rp1.020
  • Close Rp1.110

Candle tersebut memiliki shadow bawah yang panjang.

Apa yang dapat kita baca?

Harga sempat turun sampai Rp1.020.

Tetapi kemudian pembeli masuk sehingga harga kembali ke sekitar Rp1.110.

Jika kondisi tersebut terjadi di area support, trader mungkin memperhatikan adanya kemungkinan tekanan jual mulai melemah.

Namun belum berarti harga pasti naik.

Trader dapat menunggu:

  • candle konfirmasi,
  • volume,
  • kemampuan harga bertahan di support,
  • kondisi tren,
  • dan indikator lainnya.

Kesalahan Pemula Saat Membaca Candlestick

  1. Menganggap Satu Candle sebagai Kepastian
    Ini kesalahan paling umum. Candlestick memberikan sinyal atau informasi, bukan kepastian.
  2. Hanya Menghafal Nama Pola
    Pemula sering menghafalkan: “Hammer berarti naik.” “Shooting star berarti turun.” Padahal konteks jauh lebih penting. Hammer di tengah kondisi sideways belum tentu memiliki arti yang sama dengan hammer setelah penurunan panjang di area support.
  3. Mengabaikan Volume
    Candlestick sebaiknya tidak dibaca sendirian. Volume dapat membantu melihat seberapa besar aktivitas transaksi yang menyertai pergerakan harga.
  4. Tidak Melihat Tren
    Pola candlestick harus dilihat bersama tren. Jangan langsung mengambil keputusan hanya karena melihat candle tertentu.
  5. Terlalu Banyak Indikator
    Pemula sering menambahkan RSI, MACD, Moving Average, Bollinger Bands, Stochastic, Fibonacci, dan berbagai indikator lainnya. Akibatnya grafik justru menjadi terlalu ramai. Lebih baik memahami beberapa alat dengan baik daripada menggunakan banyak indikator tetapi tidak memahami fungsinya.

Apakah Candlestick Bisa Menentukan Saham Akan Naik?

Tidak.

Candlestick tidak dapat menjamin harga saham akan naik atau turun.

Candlestick merupakan alat untuk membaca perilaku harga.

OJK menjelaskan analisis teknikal digunakan untuk menganalisis pergerakan harga saham, termasuk kemungkinan continuation atau reversal.

Karena pasar saham dipengaruhi banyak faktor, pola yang sama tidak selalu menghasilkan pergerakan harga yang sama.

Itulah sebabnya candlestick sebaiknya digunakan bersama:

  • tren,
  • support,
  • resistance,
  • volume,
  • manajemen risiko,
  • dan analisis lainnya.

Candlestick untuk Trading atau Investasi?

Candlestick biasanya lebih banyak digunakan dalam analisis teknikal dan trading karena membantu membaca pergerakan harga dalam berbagai timeframe.

Namun investor jangka panjang juga dapat menggunakan grafik untuk memahami momentum harga.

Untuk keputusan investasi jangka panjang, candlestick sebaiknya tidak menggantikan analisis fundamental perusahaan.

Investor tetap perlu memperhatikan:

  • pendapatan,
  • laba,
  • utang,
  • arus kas,
  • prospek bisnis,
  • valuasi,
  • dan kondisi industrinya.

Timeframe Apa yang Cocok untuk Pemula?

Tidak ada satu timeframe yang paling benar untuk semua orang.

Pemilihannya tergantung tujuan.

Gaya Contoh Timeframe
Scalping 1–5 menit
Day trading 5 menit–1 jam
Swing trading 1 jam–harian
Position trading Harian–mingguan
Investasi Mingguan–bulanan

Semakin kecil timeframe, semakin banyak noise atau pergerakan harga jangka pendek yang dapat muncul.

Karena itu, pemula biasanya lebih mudah belajar dari timeframe yang lebih besar terlebih dahulu.

Apakah Candlestick Sama dengan Analisis Teknikal?

Tidak persis sama.

Candlestick adalah salah satu alat dalam analisis teknikal.

Analisis teknikal memiliki cakupan yang lebih luas.

Di dalamnya terdapat:

  • candlestick,
  • chart pattern,
  • trend,
  • support dan resistance,
  • volume,
  • moving average,
  • RSI,
  • MACD,
  • dan berbagai indikator lainnya.

OJK juga membagi analisis teknikal ke dalam beberapa pendekatan, termasuk chart pattern dan candlestick pattern.

Cara Belajar Candlestick dari Nol

Jika benar-benar pemula, jangan langsung menghafalkan puluhan pola.

Gunakan urutan berikut:

  1. Tahap 1 — Pahami Open, High, Low, Close.
  2. Tahap 2 — Pahami body dan shadow.
  3. Tahap 3 — Bedakan bullish dan bearish.
  4. Tahap 4 — Pelajari doji.
  5. Tahap 5 — Pelajari hammer dan shooting star.
  6. Tahap 6 — Pelajari bullish engulfing dan bearish engulfing.
  7. Tahap 7 — Gabungkan dengan support dan resistance.
  8. Tahap 8 — Tambahkan volume.
  9. Tahap 9 — Pelajari hubungan dengan tren.
  10. Tahap 10 — Latihan membaca chart tanpa langsung melakukan transaksi.

Dengan cara tersebut, pemahaman akan lebih kuat daripada sekadar menghafalkan nama-nama pola.

Checklist Membaca Candlestick Saham

Sebelum mengambil keputusan berdasarkan candlestick, gunakan checklist sederhana:

  1. Saham sedang uptrend, downtrend, atau sideways?
  2. Candle muncul di area support atau resistance?
  3. Body candle panjang atau pendek?
  4. Shadow atas atau bawah lebih dominan?
  5. Bagaimana posisi Close terhadap Open?
  6. Bagaimana candle sebelumnya?
  7. Apakah volume mendukung pergerakan?
  8. Apakah sudah ada candle konfirmasi?
  9. Di mana batas risiko jika analisis ternyata salah?

Checklist ini jauh lebih berguna daripada hanya menghafal nama pola.

Kesimpulan

Cara membaca candlestick saham dimulai dari memahami empat informasi utama, yaitu Open, High, Low, dan Close.

Dari empat data tersebut terbentuk body dan shadow yang memberikan gambaran mengenai pergerakan harga selama periode tertentu.

Candlestick dapat membantu trader membaca:

  • kekuatan pembeli,
  • kekuatan penjual,
  • tekanan beli,
  • tekanan jual,
  • momentum,
  • potensi continuation,
  • dan kemungkinan reversal.

Namun, satu candlestick tidak boleh dianggap sebagai jaminan harga akan naik atau turun.

Cara yang lebih baik adalah menggabungkan candlestick dengan tren, support, resistance, volume, timeframe, dan manajemen risiko.

Bagi pemula, tidak perlu langsung mempelajari puluhan pola. Kuasai terlebih dahulu Open, High, Low, Close, body, shadow, bullish, bearish, doji, hammer, shooting star, dan engulfing.

Setelah dasar tersebut dikuasai, barulah lanjut ke pola candlestick yang lebih kompleks.

FAQ Cara Membaca Candlestick Saham

Apa itu candlestick saham?

Candlestick saham adalah grafik yang menggambarkan pergerakan harga saham dalam periode tertentu berdasarkan Open, High, Low, dan Close.

Apa arti candle hijau?

Candle hijau umumnya menunjukkan bahwa harga Close lebih tinggi daripada harga Open.

Apa arti candle merah?

Candle merah umumnya menunjukkan bahwa harga Close lebih rendah daripada harga Open.

Apa itu body candlestick?

Body adalah bagian utama candlestick yang menunjukkan jarak antara harga Open dan Close.

Apa itu shadow candlestick?

Shadow atau wick adalah garis yang menunjukkan harga tertinggi dan terendah yang dicapai selama periode tersebut.

Apa arti shadow bawah panjang?

Shadow bawah yang panjang menunjukkan harga sempat turun cukup dalam tetapi kemudian mendapatkan tekanan beli dan bergerak kembali ke atas.

Apa arti shadow atas panjang?

Shadow atas yang panjang menunjukkan harga sempat naik cukup tinggi tetapi kemudian mendapatkan tekanan jual.

Apakah candlestick bisa menjamin keuntungan?

Tidak. Candlestick hanya memberikan informasi atau sinyal berdasarkan pergerakan harga dan tidak menjamin keuntungan.

Apakah candlestick cocok untuk pemula?

Ya. Candlestick merupakan salah satu dasar yang dapat dipelajari pemula dalam analisis teknikal. Namun, pemula tetap perlu memahami risiko dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan satu pola.

Apa yang harus dipelajari setelah candlestick?

Setelah memahami candlestick, pembaca dapat melanjutkan ke support dan resistance, volume, moving average, RSI, MACD, breakout, false breakout, dan chart pattern.

 Seri Belajar Saham

  1.  Apa Itu Trading? Pengertian, Cara Kerja, Jenis, Keuntungan dan Risikonya
  2. Apa Itu Saham? Pengertian, Jenis, dan Cara Kerjanya
  3. Cara Trading Saham untuk Pemula: Dari Nol Sampai Paham Strateginya
  4. Cara Jual Beli Saham di Bursa Efek Indonesia untuk Pemula
  5. Cara Membaca Candlestick Saham: Panduan Lengkap untuk Pemula
  6. Short Selling di BEI: Pengertian, Cara Kerja, Syarat dan Risiko
  7. Papan Pencatatan Saham di Bursa Efek Indonesia: Jenis, Syarat, dan Fungsinya
  8. Kamus Istilah Saham A–Z: Cocok untuk Pemula
  9. 7 Aplikasi Trading Saham Terbaik di Indonesia
  10. 92 Daftar Kode Broker Asing dan Lokal Resmi di Indonesia
  11. Cara Memilih Broker Saham Terbaik di Indonesia dan Aman untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan perintah jual atau beli saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi Mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.
Cara Trading Saham untuk Pemula: Dari Nol Sampai Paham Strateginya

Cara Trading Saham untuk Pemula: Dari Nol Sampai Paham Strateginya

Cara trading saham untuk pemula sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan. Namun, trading saham bukan sekadar membeli saham ketika harga turun lalu menjualnya ketika harga naik. Seorang trader perlu memahami cara memilih saham, membaca pergerakan harga, menentukan waktu beli dan jual, menghitung risiko, serta mengatur modal.

Trading saham berarti melakukan jual beli saham dengan tujuan memperoleh keuntungan dari perubahan harga. Berbeda dengan investasi saham jangka panjang yang biasanya lebih menekankan pertumbuhan bisnis dan pembagian dividen, trader lebih memperhatikan peluang pergerakan harga dalam jangka pendek hingga menengah.

Trading Saham
Trading Saham. Radit M. Pase / Mediasaham.com

Bagi pemula, hal terpenting bukan mencari saham yang pasti naik. Tidak ada saham yang pasti naik. Yang lebih penting adalah memiliki rencana trading, batas risiko, dan disiplin menjalankan rencana tersebut.

Apa Itu Trading Saham?

Trading saham adalah aktivitas membeli dan menjual saham untuk memanfaatkan perubahan harga.

Contohnya:

  • Anda membeli saham pada harga Rp1.000 per lembar.
  • Kemudian harga naik menjadi Rp1.100 dan Anda menjualnya.

Keuntungan kotor:
Rp1.100 - Rp1.000 = Rp100 per saham

Jika membeli 10 lot, berarti memiliki 1.000 saham karena 1 lot terdiri dari 100 lembar saham. Maka keuntungan kotor:
Rp100 × 1.000 = Rp100.000

Perhitungan tersebut belum memperhitungkan biaya transaksi yang dikenakan oleh perusahaan sekuritas.

BEI menjelaskan bahwa investor melakukan transaksi saham melalui aplikasi perusahaan sekuritas. Investor memasukkan harga dan jumlah lot, kemudian pesanan akan masuk ke sistem perdagangan dan menjadi transaksi apabila terdapat pesanan lawan yang sesuai.

Cara Jual Beli Saham di Bursa Efek Indonesia untuk Pemula

Cara Jual Beli Saham di Bursa Efek Indonesia untuk Pemula

Cara membeli saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebenarnya cukup mudah. Saat ini, pembelian saham dapat dilakukan melalui aplikasi perusahaan sekuritas yang sudah menyediakan layanan perdagangan saham secara online.

Namun, sebelum membeli saham, investor harus memahami beberapa hal penting, mulai dari memilih perusahaan sekuritas, membuka Rekening Efek dan Rekening Dana Nasabah (RDN), menyetor modal, memilih saham, menentukan jumlah lot, memasukkan harga beli, hingga memastikan transaksi berhasil.

Bagi pemula, prosesnya dapat digambarkan secara sederhana:

Pilih sekuritas → buka rekening → dapatkan RDN → setor dana → pilih saham → masukkan order beli → order matched → saham masuk ke portofolio.

BEI
Gedung Bursa Efek Indonesia. Adit Saputra / Mediasaham.com

BEI menjelaskan bahwa investor melakukan transaksi saham melalui aplikasi perusahaan sekuritas. Saat membeli, investor memasukkan harga beli dan jumlah lot, kemudian pesanan masuk ke sistem perdagangan dan menunggu kecocokan dengan penjual.

Apa Itu Bursa Efek Indonesia?

Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah tempat berlangsungnya perdagangan efek di pasar modal Indonesia, termasuk saham yang tercatat di bursa.

Sederhananya, bayangkan BEI seperti sebuah pasar.
Tetapi yang diperjualbelikan bukan sayur, buah, atau pakaian.
Yang diperdagangkan adalah instrumen pasar modal, termasuk saham.

Investor tidak datang langsung ke gedung BEI untuk membeli saham.
Investor biasanya menggunakan perusahaan sekuritas sebagai perantara untuk memasukkan pesanan beli atau jual ke sistem perdagangan bursa.

Karena itu, seseorang tidak bisa membeli saham secara langsung dari BEI seperti membeli barang di toko.

Apakah Bisa Membeli Saham Langsung di BEI?

Tidak.

Investor membeli dan menjual saham melalui perusahaan sekuritas atau Perusahaan Efek yang memiliki izin sesuai ketentuan.

BEI mengingatkan calon investor untuk memperhatikan izin operasional perusahaan tempat membeli produk investasi.

Jadi, alurnya bukan:
Investor → BEI → beli saham

Tetapi secara sederhana:
Investor → Perusahaan Sekuritas → Sistem Perdagangan BEI → Transaksi Saham

Aplikasi sekuritas menjadi alat yang digunakan investor untuk memasukkan order.

Apa yang Harus Disiapkan untuk Membeli Saham?

Sebelum membeli saham, pemula perlu menyiapkan beberapa hal.

1. Identitas diri

Untuk membuka rekening investasi, calon investor harus memberikan data dan dokumen sesuai persyaratan perusahaan sekuritas.

2. Rekening Efek

Rekening Efek digunakan untuk mencatat kepemilikan efek dan transaksi investor.

3. Rekening Dana Nasabah

RDN merupakan rekening dana atas nama investor yang digunakan untuk menampung dana sebelum dan sesudah transaksi saham. BEI menjelaskan bahwa RDN dibuka oleh perusahaan sekuritas dan dananya dipisahkan dari rekening perusahaan sekuritas.

4. Aplikasi trading

Aplikasi tersebut digunakan untuk melihat harga saham, memasukkan order beli dan jual, melihat portofolio, serta memantau transaksi.

5. Modal

Investor harus menyetor dana ke RDN sebelum melakukan pembelian saham.

Aksi Asset Recycling: PT Adhi Karya Divestasi 47,18% Saham Tol Jogja-Solo ke PT SMI Senilai Rp1,76 Triliun

Aksi Asset Recycling: PT Adhi Karya Divestasi 47,18% Saham Tol Jogja-Solo ke PT SMI Senilai Rp1,76 Triliun

Mediasaham.com, Jakarta — PT Adhi Karya (Persero) Tbk (kode saham: ADHI) secara resmi mengumumkan rencana divestasi seluruh kepemilikan sahamnya di PT Jasamarga Jogja Solo (JMJ) kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI.

Langkah korporasi ini memiliki nilai transaksi mencapai Rp1,765 triliun dan menjadi bagian dari strategi restrukturisasi portofolio serta penyehatan keuangan perseroan.

Berdasarkan Keterbukaan Informasi Fakta Material yang diterbitkan pada 7 Oktober 2026, transaksi ini melibatkan pengalihan sebanyak 1.714.808 lembar saham biasa atas nama atau setara dengan 47,18% dari seluruh saham yang disetor penuh di JMJ.

Penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (PJBB) telah dilaksanakan pada 30 September 2026 dan ditargetkan rampung sepenuhnya paling lambat 30 November 2026.

PT Adhi Karya (Persero) Tbk (kode saham: ADHI). Sumber foto PT Adhi Karya

Strategi Invest to Divest dan Penyehatan Keuangan BUMN Karya

Manajemen ADHI menjelaskan bahwa keputusan divestasi ini sejalan dengan penerapan strategi invest to divest.

Pada awalnya, penyertaan modal ADHI pada badan usaha jalan tol (BUJT) bertujuan untuk mengamankan porsi pekerjaan konstruksi. Setelah proyek konstruksi berjalan dan beroperasi, kepemilikan saham dilepas melalui strategi asset recycling.

Strategi tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan alokasi modal serta memfokuskan kembali sumber daya perusahaan pada bisnis utamanya (core business) di bidang konstruksi.

Langkah ini juga merupakan bentuk eksekusi dari arahan strategis PT Danantara Asset Management (DAM) dalam program integrasi dan restrukturisasi BUMN Karya.

ADHI dikelompokkan dalam Klaster 1 BUMN Karya yang diarahkan untuk melakukan penataan aset dan liabilitas guna menciptakan solvabilitas serta likuiditas yang lebih kuat.

10 Saham dengan Market Cap Terbesar di Indonesia, BBCA Memimpin

10 Saham dengan Market Cap Terbesar di Indonesia, BBCA Memimpin

Kapitalisasi pasar menjadi salah satu indikator yang sering digunakan untuk melihat seberapa besar nilai sebuah perusahaan di pasar saham. Semakin besar kapitalisasi pasar, semakin besar pula nilai perusahaan berdasarkan harga saham yang beredar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan data market capitalization, terdapat sejumlah saham dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai ratusan triliun rupiah. BBCA menempati posisi teratas dengan kapitalisasi pasar Rp738 triliun, disusul DCII sebesar Rp476 triliun dan BBRI sebesar Rp471 triliun.

Daftar ini memberikan gambaran mengenai perusahaan-perusahaan dengan market cap terbesar di Indonesia berdasarkan data yang tersedia. Selain sektor perbankan, daftar tersebut juga diisi oleh perusahaan telekomunikasi, energi, teknologi, infrastruktur dan sektor lainnya.

IDX Jakarta
Gedung Bursa Efek Indonesia. Adit Saputra / Mediasaham.com

Apa Itu Market Cap Saham?

Market capitalization atau kapitalisasi pasar adalah nilai total suatu perusahaan berdasarkan harga saham di pasar dan jumlah saham yang beredar.

Secara sederhana, rumus kapitalisasi pasar adalah:

Market Cap = Harga Saham × Jumlah Saham Beredar

Karena harga saham bergerak setiap hari, nilai kapitalisasi pasar suatu perusahaan juga dapat berubah. Oleh karena itu, peringkat saham berdasarkan market cap dapat mengalami perubahan mengikuti pergerakan harga saham.

15 Broker Saham dengan Nilai Transaksi Tertinggi 2026

15 Broker Saham dengan Nilai Transaksi Tertinggi 2026

Pasar saham Indonesia tidak hanya mempertemukan investor dan perusahaan yang menerbitkan saham. Di balik transaksi jual beli saham, terdapat perusahaan sekuritas yang menjadi perantara bagi investor untuk melakukan transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Besarnya aktivitas sebuah perusahaan sekuritas dapat dilihat salah satunya dari nilai transaksi saham yang dilakukan melalui broker tersebut. Semakin besar nilai transaksi, semakin besar pula aktivitas perdagangan yang tercatat melalui perusahaan sekuritas tersebut.

Berdasarkan data Total Trade Value Year to Date (YTD) hingga September 2026, terdapat sejumlah broker saham yang mencatat nilai transaksi sangat besar. Stockbit Sekuritas Digital berada di posisi teratas dengan nilai transaksi mencapai Rp830,77 triliun, disusul UBS Sekuritas Indonesia dan Mandiri Sekuritas.

Trading saham
Seseorang Investor sedang melakukan trading saham. Adit Saputra / Mediasaham.com

Artikel ini membahas 15 broker saham dengan nilai transaksi tertinggi hingga September 2026, lengkap dengan kode broker, nilai transaksi, pangsa terhadap total transaksi, serta pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Daftar 15 Broker Saham dengan Nilai Transaksi Terbesar 2026

Berikut daftar broker berdasarkan Total Trade Value YTD September 2026:

Peringkat Kode Nama Sekuritas Trade Value YTD 2026
(Rp miliar)
Pangsa YTD 2025
(Rp miliar)
YoY
1XLStockbit Sekuritas Digital830.77411,32%281.433195,19%
2AKUBS Sekuritas Indonesia740.52510,09%499.25948,32%
3CCMandiri Sekuritas739.96410,08%537.49837,67%
4ZPMaybank Sekuritas Indonesia473.5686,45%401.21418,03%
5YUCGS International Sekuritas Indonesia386.0465,26%360.3027,15%
6YPMirae Asset Sekuritas Indonesia384.5155,24%327.52217,40%
7PDIndo Premier Sekuritas289.3843,94%207.72639,31%
8BKJ.P. Morgan Sekuritas Indonesia281.7323,84%254.52110,69%
9MGSemesta Indovest Sekuritas243.3073,32%154.59557,38%
10XCAjaib Sekuritas Asia207.5412,83%137.54650,89%
11CPKB Valbury Sekuritas202.9262,77%148.52036,63%
12LGTrimegah Sekuritas Indonesia Tbk.177.5612,42%125.20641,82%
13SQBCA Sekuritas164.1552,24%126.09030,19%
14NIBNI Sekuritas146.7782,00%106.66737,60%
15AZSucor Sekuritas126.7991,73%89.81841,17%

Catatan: Trade Value dinyatakan dalam Rp miliar. Data merupakan nilai transaksi secara year to date (YTD) hingga September 2026 berdasarkan data statistik yang diterbitkan BEI.

Rp194 Triliun Obligasi Pemerintah Jatuh Tempo Akhir 2026, Seri Mana Terbesar?

Rp194 Triliun Obligasi Pemerintah Jatuh Tempo Akhir 2026, Seri Mana Terbesar?

Obligasi negara dan sukuk negara merupakan instrumen surat berharga yang diterbitkan pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan negara. Setiap seri memiliki karakteristik, nilai yang beredar, serta tanggal jatuh tempo yang berbeda.

Bagi investor, informasi mengenai daftar obligasi negara yang beredar penting untuk mengetahui jenis surat utang pemerintah, nilai nominal yang masih beredar hingga jadwal jatuh tempo masing-masing seri.

Total obligasi pemerintah jatuh tempo 2026. Adit Saputra / Mediasaham.com

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang digunakan dalam artikel ini, terdapat 21 seri obligasi negara dan sukuk yang tercatat akan jatuh tempo pada Oktober hingga Desember 2026.

Jika seluruh nilai yang beredar dari 21 seri tersebut dijumlahkan, nilainya mencapai sekitar Rp194,43 triliun.

Daftar Obligasi Negara dan Sukuk yang Jatuh Tempo 2026

Berikut daftar obligasi negara dan sukuk yang diurutkan berdasarkan tanggal jatuh tempo, mulai dari yang paling awal.

Apa Itu Saham? Pengertian, Jenis, dan Cara Kerjanya

Apa Itu Saham? Pengertian, Jenis, dan Cara Kerjanya

Apa itu saham? Saham adalah bukti kepemilikan seseorang atau badan usaha terhadap suatu perusahaan. Ketika seseorang membeli saham sebuah perusahaan, orang tersebut menjadi salah satu pemilik perusahaan sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, konsep saham sebenarnya cukup mudah dipahami.

Bayangkan sebuah perusahaan seperti sebuah kue yang dibagi menjadi banyak bagian. Setiap bagian mewakili kepemilikan tertentu. Jika seseorang membeli salah satu bagian tersebut, ia memiliki sebagian dari perusahaan.

Di pasar modal Indonesia, saham merupakan salah satu instrumen investasi yang paling banyak dikenal masyarakat. Saham perusahaan terbuka dapat diperdagangkan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI).

Namun, saham bukan sekadar angka yang naik dan turun di aplikasi sekuritas. Di balik sebuah saham terdapat perusahaan, bisnis, aset, utang, pendapatan, laba, dan pemegang saham.

Karena itu, memahami pengertian saham, jenis saham, cara kerja saham, keuntungan saham, risiko saham, dan cara membeli saham penting bagi siapa pun yang ingin mulai berinvestasi maupun trading saham.

saham bbri
Seorang trader sedang melakukan trading saham BBRI. Foto Adit Saputra / Mediasaham.com

Apa Itu Saham?

Saham adalah bukti penyertaan atau kepemilikan seseorang atau pihak terhadap suatu perusahaan.

OJK menjelaskan bahwa saham merupakan bukti penyertaan atau kepemilikan dalam suatu perusahaan. Kepemilikan tersebut memberikan sejumlah hak kepada pemegang saham sesuai dengan karakteristik saham yang dimilikinya.

Contoh sederhananya:

Sebuah perusahaan memiliki total 1 juta lembar saham.

Jika seseorang memiliki 10.000 saham perusahaan tersebut, berarti orang tersebut memiliki bagian dari perusahaan sesuai proporsi saham yang dimilikinya.

Semakin besar jumlah saham yang dimiliki dibandingkan total saham perusahaan, semakin besar pula persentase kepemilikannya.

Contoh Sederhana Saham

Misalnya PT ABC memiliki 1 juta saham.

Andi membeli 10.000 saham PT ABC.

Maka persentase kepemilikan Andi adalah:

10.000 ÷ 1.000.000 × 100% = 1%

Artinya, secara sederhana Andi memiliki 1% bagian dari perusahaan tersebut.

Tentu dalam praktik pasar modal terdapat struktur modal, klasifikasi saham, dan ketentuan hukum yang lebih kompleks. Namun contoh tersebut membantu memahami konsep dasar saham.

Apa Itu Trading? Pengertian, Cara Kerja, Jenis, Keuntungan dan Risikonya

Apa Itu Trading? Pengertian, Cara Kerja, Jenis, Keuntungan dan Risikonya

Trading adalah kegiatan membeli dan menjual aset keuangan dengan tujuan memperoleh keuntungan dari perubahan harga. Dalam pasar modal, trading saham berarti membeli saham pada harga tertentu kemudian menjualnya kembali ketika harga bergerak sesuai dengan target yang telah ditentukan.

Trading berbeda dengan sekadar membeli saham lalu menyimpannya dalam waktu lama. Seorang trader biasanya lebih memperhatikan pergerakan harga, momentum, volume transaksi, kondisi pasar, serta waktu masuk dan keluar dari sebuah posisi.

Meski terlihat sederhana, trading bukan cara mendapatkan uang dengan cepat tanpa risiko. Harga aset dapat bergerak naik maupun turun sehingga trader bisa memperoleh keuntungan sekaligus mengalami kerugian.

Oleh karena itu, memahami apa itu trading, cara kerjanya, jenis-jenis trading, serta risikonya menjadi langkah penting sebelum seseorang mulai melakukan transaksi.

keuntungan trading
Ilustrasi: Seseorang sedang mengamati grafik di layar lapto saat trading. Foto oleh Tyli Jura / Pixabay

Apa Itu Trading?

Secara sederhana, trading adalah aktivitas jual beli aset untuk mendapatkan keuntungan dari perubahan harga.

Contohnya, seseorang membeli saham PT ABC pada harga Rp1.000 per saham. Beberapa hari kemudian harga saham tersebut naik menjadi Rp1.100. Jika saham tersebut dijual pada harga Rp1.100, terdapat keuntungan kotor Rp100 per saham.

Sebaliknya, jika harga turun menjadi Rp900 dan saham dijual pada harga tersebut, trader mengalami kerugian Rp100 per saham.

Jadi, prinsip dasar trading dapat digambarkan sebagai:

Beli → harga bergerak → jual → untung atau rugi

Dalam konteks pasar modal Indonesia, perdagangan saham merupakan bagian utama dari kegiatan pasar modal. Perdagangan tersebut dilakukan melalui mekanisme pasar yang diatur oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama lembaga terkait seperti KPEI dan KSEI.

Apa Arti Trading?

Kata trading berasal dari bahasa Inggris yang berarti perdagangan.

Dalam dunia keuangan, trading mengacu pada aktivitas memperjualbelikan instrumen keuangan dengan memanfaatkan perubahan harga.

Instrumen yang dapat diperdagangkan sangat beragam, antara lain:

  • Saham
  • Obligasi
  • Mata uang atau forex
  • Komoditas
  • Kontrak berjangka
  • Aset digital
  • Instrumen keuangan lainnya

Namun, mekanisme dan tingkat risiko setiap instrumen berbeda. Karena itu, seseorang tidak seharusnya menganggap semua jenis trading memiliki cara kerja yang sama.

Jadwal Pembagian Dividen AUTO 2026: Rp72,52 per Saham, Yield 2,10%

Jadwal Pembagian Dividen AUTO 2026: Rp72,52 per Saham, Yield 2,10%

PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) akan membagikan dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp72,52 per saham. Pembayaran dividen kepada pemegang saham yang berhak dijadwalkan pada 26 Oktober 2026.

Keputusan pembagian dividen interim tersebut ditetapkan oleh Direksi AUTO pada 2 Oktober 2026 dan telah memperoleh persetujuan Dewan Komisaris pada 1 Oktober 2026.

Dengan jadwal cum dividen yang semakin dekat, investor perlu memperhatikan tanggal penting untuk mendapatkan hak atas dividen saham AUTO.

jadwal pembagian dividen auto
Saham AUTO membagi dividen ke investor. Radit M. Pase / Mediasaham.com

Jadwal Pembagian Dividen AUTO 2026

Berikut jadwal lengkap pembagian dividen interim Astra Otoparts:

Keterangan

Tanggal

Cum Dividen Pasar Reguler & Negosiasi

13 Oktober 2026

Ex Dividen Pasar Reguler & Negosiasi

14 Oktober 2026

Cum Dividen Pasar Tunai

15 Oktober 2026

Recording Date

15 Oktober 2026

Ex Dividen Pasar Tunai

16 Oktober 2026

Pembayaran Dividen

26 Oktober 2026

Pemegang saham yang berhak memperoleh dividen adalah investor yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham AUTO pada 15 Oktober 2026 pukul 16:00 WIB.

Baca: 50 Dividen Saham Terbesar 2026

Dividen AUTO 2026 Sebesar Rp72,52 per Saham

Astra Otoparts menetapkan dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp72,52 per saham.

Pembagian dividen tersebut didasarkan pada kondisi keuangan perseroan per 30 Juni 2026. AUTO mencatat laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar sekitar Rp1,15 triliun, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sekitar Rp11,98 triliun, dan total ekuitas sekitar Rp17,19 triliun.

Dengan jumlah saham beredar sebanyak 4.819.733.000 saham, total dividen interim yang disiapkan mencapai sekitar Rp349,52 miliar.

Berita Terbaru

    Konten Premium

      Dividen Saham