Memuat artikel...
Laba Melonjak 216%! Ini Rahasia PTBA Lipat Gandakan Laba di Kuartal III-2026

Laba Melonjak 216%! Ini Rahasia PTBA Lipat Gandakan Laba di Kuartal III-2026

MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan kinerja keuangan yang sangat impresif pada periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026. Emiten pertambangan batu bara pelat merah ini mencatatkan lonjakan profitabilitas yang signifikan di tengah dinamika pasar global, ditopang oleh pertumbuhan pendapatan usaha serta kenaikan kontribusi laba dari entitas asosiasi dan ventura bersama.

 Fasilitas pemuatan atau terminal pengapalan batu bara milik Bukit Asam Tbk/PTBA

Ringkasan Kinerja Keuangan PTBA (Per 30 September 2026 dan 2025)

(Dalam Jutaan Rupiah, kecuali data per saham)

Indikator Keuangan 30 September 2026 30 September 2025 Perubahan (%)
Pendapatan Rp35,201,385 Rp31,330,296 +12.36%
Laba Bruto Rp7,266,218 Rp3,565,941 +103.77%
Laba Usaha Rp5,113,743 Rp1,595,842 +220.44%
Laba Sebelum Pajak Penghasilan Rp5,742,035 Rp1,838,554 +212.33%
Laba Periode Berjalan Rp4,418,156 Rp1,400,143 +215.55%
Laba Diatribusikan ke Pemilik Entitas Induk Rp4,410,551 Rp1,394,026 +216.39%
Laba Per Saham Dasar/Dilusian (Rp) Rp383 Rp121 +216.53%

1. Pembahasan Pendapatan & Beban

Per 30 September 2026, PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp35.20 triliun, meningkat 12.36% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp31.33 triliun. Pertumbuhan top-line ini mencerminkan kuatnya volume penjualan batu bara perseroan di pasar domestik maupun ekspor.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan tercatat stabil di angka Rp27.94 triliun (hampir mendatar dibandingkan Rp27.76 triliun pada tahun lalu). Keberhasilan menjaga efisiensi beban pokok di tengah kenaikan pendapatan melambungkan laba bruto secara spektakuler sebesar 103.77% menjadi Rp7.27 triliun, dengan marjin laba bruto yang melonjak tajam ke level 20.64% (dibandingkan 11.38% pada periode lalu). Sementara itu, beban umum dan administrasi serta beban penjualan dan pemasaran masing-masing tercatat sebesar Rp1.70 triliun dan Rp634.78 miliar.

2. Tabel Rincian Laporan Laba Rugi

Pos Laporan Laba Rugi 30 September 2026 (Rp Juta) 30 September 2025 (Rp Juta) Perubahan (%)
Pendapatan 35,201,385 31,330,296 +12.36%
Beban pokok pendapatan (1) (27,935,167) (27,764,355) +0.62%
Laba bruto 7,266,218 3,565,941 +103.77%
Beban umum dan administrasi (2) (1,702,555) (1,511,177) +12.67%
Beban penjualan dan pemasaran (3) (634,776) (559,384) +13.48%
Penghasilan lainnya - neto 184,856 100,462 +84.01%
Laba usaha 5,113,743 1,595,842 +220.44%
Penghasilan keuangan 183,502 157,557 +16.47%
Biaya keuangan (136,518) (247,932) -44.94%
Bagian atas laba neto entitas asosiasi & ventura bersama 581,308 333,087 +74.52%
Laba sebelum pajak penghasilan 5,742,035 1,838,554 +212.33%
Beban pajak penghasilan (4) (1,323,879) (438,411) +201.97%
Laba periode berjalan 4,418,156 1,400,143 +215.55%

Catatan Kaki:

  • (1) Beban pokok pendapatan mencakup biaya penambangan langsung, pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal), pengangkutan (hauling), serta royalti kepada pemerintah.
  • (2) Beban umum dan administrasi mencakup gaji karyawan, honorarium, penyusutan non-produksi, serta jasa profesional.
  • (3) Beban penjualan dan pemasaran mencakup biaya pengapalan, pelabuhan, dan logistik ekspor/domestik.
  • (4) Kenaikan beban pajak penghasilan sejalan dengan lonjakan laba kena pajak perseroan pada periode berjalan.

3. Laba yang Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk

Dari total laba periode berjalan sebesar Rp4.42 triliun, porsi laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp4.41 triliun, meroket 216.39% dari Rp1.39 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Sisa laba sebesar Rp7.61 miliar merupakan bagian yang diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali.

Lonjakan laba bersih yang luar biasa ini turut mengerek laba per saham dasar dan dilusian (Earnings Per Share / EPS) menjadi Rp383 per lembar saham, melonjak tajam dari posisi sebelumnya di Rp121.

4. Analisa Mendalam Penyebab Kenaikan Laba Entitas Induk

Pertumbuhan laba bersih entitas induk didorong oleh beberapa katalis utama:

  • Optimalisasi Margin dan Efisiensi Operasional Core Business: Pendapatan yang tumbuh 12.36% berpadu dengan beban pokok yang relatif flat menghasilkan lonjakan laba bruto lebih dari dua kali lipat (+103.77%). Hal ini menunjukkan efisiensi biaya penambangan dan pengelolaan rantai pasok yang sangat baik.
  • Lonjakan Kontribusi Laba Entitas Asosiasi & Ventura Bersama: Bagian atas laba bersih dari entitas asosiasi dan ventura bersama melonjak 74.52% menjadi Rp581.31 miliar (vs Rp333.09 miliar), memberikan tambahan dorongan yang kuat terhadap bottom-line perseroan.
  • Penurunan Beban Keuangan: Efisiensi tercermin dari penurunan biaya keuangan sebesar 44.94% menjadi Rp136.52 miliar (dibandingkan Rp247.93 miliar pada tahun lalu), berkat restrukturisasi dan penurunan portofolio pinjaman berbunga.

Ringkasan Posisi Keuangan (Neraca)

  • Total Aset: Meningkat signifikan menjadi Rp51.55 triliun per 30 September 2026, dibandingkan Rp43.92 triliun per 31 Desember 2025. Konstituen utama penopang kenaikan aset adalah peningkatan Kas dan Setara Kas menjadi Rp4.89 triliun serta penambahan deposito berjangka dan piutang usaha.
  • Total Liabilitas: Naik menjadi Rp24.31 triliun dari Rp21.30 triliun, dipengaruhi oleh penambahan fasilitas pinjaman bank jangka pendek/panjang serta kenaikan biaya yang masih harus dibayar.
  • Total Ekuitas: Menguat kokoh ke level Rp27.24 triliun (dibandingkan Rp22.62 triliun per 31 Desember 2025), didorong oleh akumulasi perolehan laba ditahan belum dicadangkan yang melonjak menjadi Rp7.80 triliun.

Ringkasan Arus Kas Konsolidasian (9 Bulan 2026)

  • Arus Kas dari Aktivitas Operasi: Mencatatkan kas masuk bersih yang sangat kuat sebesar Rp4.44 triliun, naik dari Rp4.20 triliun, menunjukkan kemampuan menghasilkan kas dari inti bisnis yang sangat solid.
  • Arus Kas dari Aktivitas Investasi: Mencatatkan penggunaan kas bersih sebesar Rp3.50 triliun, yang dialokasikan untuk perolehan aset tetap/tanaman produktif serta penempatan deposito berjangka dan dana reklamasi tambang.
  • Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan: Mencatatkan penggunaan kas bersih sebesar Rp698.74 miliar, terutama untuk pembayaran dividen kepada pemegang saham induk sebesar Rp1.32 triliun serta pembayaran liabilitas sewa dan cicilan pinjaman.

6. Rasio Keuangan Penting

Rasio Keuangan 30 September 2026 31 Desember 2025
Current Ratio (Aset Lancar / Liabilitas Lancar) 1.25x 1.12x
Liabilitas terhadap Total Aset (Debt to Asset Ratio) 47.16% 48.50%
Liabilitas terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio) 89.24% 94.18%
Marjin Laba Bruto (Gross Profit Margin) 20.64% 11.38%
Marjin Laba Bersih (Net Profit Margin) 12.55% 4.47%

Kesimpulan

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan kinerja cemerlang hingga kuartal III-2026. Lonjakan laba bersih lebih dari tiga kali lipat (+216.39%), ekspansi marjin laba yang masif, posisi likuiditas kas yang sehat di kisaran Rp4.89 triliun, serta perbaikan rasio solvabilitas mencerminkan fundamental operasional dan keuangan perseroan yang sangat tangguh di industri energi nasional.

Tanya Jawab Ringkas (FAQ)

Q: Berapa perolehan laba bersih yang diatribusikan ke entitas induk per 30 September 2026?
A: Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp4.41 triliun, meroket 216.39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Q: Apa katalis utama di balik lonjakan profitabilitas PTBA pada kuartal III-2026?
A: Lonjakan didorong oleh pertumbuhan pendapatan usaha, efisiensi beban pokok sehingga laba bruto melonjak 103.77%, serta peningkatan kontribusi laba dari entitas asosiasi dan ventura bersama.

Q: Bagaimana posisi likuiditas kas PTBA saat ini?
A: Likuiditas sangat kuat dengan posisi kas dan setara kas mencapai Rp4.89 triliun per 30 September 2026.

Disclaimer: Laporan ini disusun murni untuk kepentingan informasi dan analisis keuangan berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim PT Bukit Asam Tbk per 30 September 2026. Informasi ini tidak dimaksudkan dan tidak boleh ditafsirkan sebagai bentuk rekomendasi formal untuk membeli atau menjual saham tertentu. Mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas kerugian yang dialami investor. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.

Kinerja Keuangan Kuartal III-2026 ABM Investama (ABMM): Laba Bersih Meroket 141% Ditopang Efisiensi dan Kontribusi Entitas Asosiasi

Kinerja Keuangan Kuartal III-2026 ABM Investama (ABMM): Laba Bersih Meroket 141% Ditopang Efisiensi dan Kontribusi Entitas Asosiasi

MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — PT ABM Investama Tbk (ABMM) kembali membukukan rapor keuangan yang solid pada periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026. Emiten energi dan investasi terintegrasi ini mencatatkan pertumbuhan kinerja yang sangat positif, didorong oleh peningkatan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan serta kontribusi kuat dari bagian laba entitas asosiasi.

Aktivitas operasional di area tambang batubara/ ABM Investama

Ringkasan Kinerja Keuangan (Per 30 September 2026 dan 2025)

(Dalam Dolar Amerika Serikat, kecuali data per saham)

YUPI Bagikan Dividen Interim 2026 Rp126,75 miliar dan Yield 1,18, Cek Jadwalnya!

YUPI Bagikan Dividen Interim 2026 Rp126,75 miliar dan Yield 1,18, Cek Jadwalnya!

MEDIASAHAM.COM – PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) resmi mengumumkan rencana pembagian dividen interim untuk tahun buku 2026. Berdasarkan keputusan Direksi yang telah disetujui oleh Dewan Komisaris pada 5 November 2026, emiten produsen permen jeli ini akan membagikan total dividen interim sebesar Rp126,75 miliar atau setara dengan Rp14,8347 (dibulatkan Rp14,83) per lembar saham kepada para pemegang saham yang berhak.

Yupi/yupi.co.id

Keputusan distribusi dividen tunai di tengah tahun ini didukung oleh kinerja keuangan perseroan yang solid hingga kuartal III 2026. Berdasarkan laporan keuangan periode 30 September 2026, YUPI membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp449,16 miliar, dengan saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp588,08 miliar serta total ekuitas mencapai Rp1,72 triliun.

Kinerja Keuangan Kuartal III-2026 Adaro Andalan (AADI): Pendapatan dan Laba Bersih Kompak Melesat Ditopang Efisiensi Operasional

Kinerja Keuangan Kuartal III-2026 Adaro Andalan (AADI): Pendapatan dan Laba Bersih Kompak Melesat Ditopang Efisiensi Operasional

MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) kembali membukukan rapor keuangan yang solid pada periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026. Emiten energi dan pertambangan terintegrasi ini mencatatkan pertumbuhan kinerja yang positif di tengah dinamika pasar global, didorong oleh peningkatan volume pendapatan usaha serta optimalisasi beban pokok dan operasional secara berkelanjutan.

Truk Tambang Raksasa Milik Adaro Andalan Indonesia

Ringkasan Kinerja Keuangan (Per 30 September 2026 dan 2025)

(Dalam ribuan Dolar AS, kecuali data per saham)

Indikator Keuangan 30 September 2026 30 September 2025 Perubahan (%)
Pendapatan Usaha $3,959,192 $3,609,128 +9.70%
Laba Bruto $1,202,036 $943,261 +27.43%
Laba Usaha $1,067,417 $810,553 +31.69%
Laba Sebelum Pajak Penghasilan $1,060,938 $812,557 +30.57%
Laba Periode Berjalan $760,634 $654,869 +16.15%
Laba Diatribusikan ke Pemilik Entitas Induk $683,338 $587,324 +16.35%
Laba Per Saham Dasar/Dilusian ($) $0.08775 $0.07542 +16.35%

1. Pembahasan Pendapatan & Beban

Per 30 September 2026, AADI membukukan pendapatan usaha sebesar $3.96 miliar, meningkat 9.70% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar $3.61 miliar. Pertumbuhan top-line ini menunjukkan ketahanan permintaan terhadap portofolio bisnis utama perseroan.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan tercatat naik tipis menjadi $2.76 miliar dari $2.67 miliar. Peningkatan beban pokok yang lebih lambat dibandingkan pertumbuhan pendapatan mendongkrak laba bruto secara signifikan sebesar 27.43% menjadi $1.20 miliar, dengan marjin laba bruto yang menguat menjadi kisaran 30.36% (dibandingkan 26.14% pada tahun sebelumnya). Sementara itu, beban usaha tercatat terkendali di angka $181.25 juta, naik moderat 5.50% dari $171.81 juta.

2. Tabel Rincian Laporan Laba Rugi

Pos Laporan Laba Rugi 30 September 2026 ($) 30 September 2025 ($) Perubahan (%)
Pendapatan usaha 3,959,192 3,609,128 +9.70%
Beban pokok pendapatan (1) (2,757,156) (2,665,867) +3.42%
Laba bruto 1,202,036 943,261 +27.43%
Beban usaha (2) (181,253) (171,814) +5.50%
Pendapatan lain-lain, neto 46,634 39,106 +19.25%
Laba usaha 1,067,417 810,553 +31.69%
Biaya keuangan (39,950) (45,175) -11.57%
Penghasilan keuangan 33,513 43,001 -22.06%
Bagian atas (kerugian)/keuntungan neto ventura bersama (42) 4,178 N/A
Laba sebelum pajak penghasilan 1,060,938 812,557 +30.57%
Beban pajak penghasilan (3) (300,304) (157,688) +90.44%
Laba periode berjalan 760,634 654,869 +16.15%

Catatan Kaki:

  • (1) Beban pokok pendapatan mencakup biaya langsung produksi, penambangan, pengangkutan, serta royalti kepada pemerintah.
  • (2) Beban usaha terdiri dari beban penjualan, umum, dan administrasi.
  • (3) Kenaikan beban pajak penghasilan sejalan dengan peningkatan laba kena pajak serta penyesuaian tarif/ketentuan fiskal yang berlaku.

3. Laba yang Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk

Dari total laba periode berjalan sebesar $760.63 juta, porsi laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai $683.34 juta, tumbuh 16.35% dari $587.32 juta pada periode yang sama tahun 2025. Sisa laba sebesar $77.30 juta merupakan bagian yang diatribusikan kepada kepentingan non-pengendali.

Kinerja positif ini turut mengerek laba per saham dasar dan dilusian (Earnings Per Share / EPS) menjadi $0.08775 per lembar saham, naik dari posisi sebelumnya di $0.07542.

4. Analisa Mendalam Penyebab Naiknya Laba Entitas Induk

Pertumbuhan laba bersih entitas induk didukung oleh beberapa pilar utama:

  • Kinerja Operasional Core Business yang Tangguh: Lonjakan laba bruto hingga 27.43% menunjukkan efisiensi rantai pasok dan produktivitas aset operasional penambangan yang memadai, di mana pertumbuhan volume pendapatan melampaui kenaikan beban produksi langsung.
  • Optimalisasi Biaya Keuangan: Efisiensi tercermin dari penurunan beban keuangan dari $45.18 juta menjadi $39.95 juta, berkat restrukturisasi dan penurunan portofolio pinjaman berbunga tertentu selama periode berjalan.
  • Disiplin Beban Usaha: Meskipun skala operasi meningkat, kenaikan beban usaha berhasil dijaga pada kisaran moderat 5.50%, mencerminkan kontrol ketat manajemen terhadap biaya operasional tidak langsung.

Baca Laporan Keuangan Emiten:

  1. Laporan Keuangan Indosat Q3 2026: Laba Bersih Melonjak +37,19% Jadi Rp4,92 triliun, Cek Analisis Keuangan ISAT
  2. Laporan Keuangan CFIN per September 2026 Laba Bersih Naik 13% Jadi Rp153,65 miliar
  3. Laba Bersih UVCR Meroket 395% per September 2026
  4. Bank Mandiri Cetak Laba Rp47,11 Triliun hingga September 2026, Naik 13,9%
  5. Bukalapak Minus Rp881 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Naik 19%
  6. Laba BLES Melonjak 484% Jadi Rp284 Miliar hingga Kuartal III-2026
  7. Laba Saham PADA Melonjak 333% Jadi Rp3,4 Miliar hingga September 2026
  8. Kedaung Indah Can (KICI) Pangkas Rugi 67,74% Jadi Rp2,19 Miliar hingga September 2026
  9. Laporan Keuangan Mayora Q3 2026: Laba Naik +31,08% Jadi Rp2,47 Triliun, Cek Rasio Keuangan Saham MYOR
  10. Laba PT Vale Indonesia (INCO) Meroket 180% Jadi AS$147,1 juta  hingga September 2026
  11. Bedah Kinerja UNTR Kuartal III-2026: Mengapa Laba BersihTergerus 60,96%?
  12. Kinerja Keuangan Kuartal III-2026 Adaro Andalan (AADI): Pendapatan dan Laba Bersih Kompak Melesat Ditopang Efisiensi Operasional

5. Posisi Keuangan (Neraca) & Arus Kas

Ringkasan Posisi Keuangan (Neraca)

  • Total Aset: Meningkat signifikan menjadi $6.64 miliar per 30 September 2026, dibandingkan $5.71 miliar per 31 Desember 2025. Konstituen utama penopang kenaikan aset adalah lonjakan Kas dan Setara Kas yang mencapai $2.28 miliar (vs $925.45 juta pada akhir 2025).
  • Total Liabilitas: Naik menjadi $2.47 miliar dari $2.06 miliar, dipengaruhi oleh penambahan fasilitas utang bank jangka pendek/panjang serta penerbitan obligasi baru untuk mendukung struktur pendanaan grup.
  • Total Ekuitas: Menguat kokoh ke level $4.17 miliar (dibandingkan $3.65 miliar per 31 Desember 2025), didorong oleh akumulasi perolehan laba ditahan belum dicadangkan yang melonjak menjadi $1.23 miliar.

Ringkasan Arus Kas Konsolidasian (9 Bulan 2026)

  • Arus Kas dari Aktivitas Operasi: Mencatatkan kas masuk bersih yang kuat sebesar $779.49 juta, naik dari $684.90 juta, menunjukkan kemampuan menghasilkan kas kasat mata dari inti bisnis yang sangat sehat.
  • Arus Kas dari Aktivitas Investasi: Mencatatkan surplus bersih sebesar $540.48 juta (berbalik dari posisi negatif $212.44 juta pada periode lalu), terutama ditopang oleh penerimaan dari penjualan investasi ventura bersama sebesar $814.12 juta, meski diimbangi pembayaran pajak keuntungan modal dan penambahan aset tetap/properti pertambangan.
  • Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan: Mencatatkan arus kas bersih positif sebesar $50.57 juta, setelah memperhitungkan pembayaran dividen tunai kepada pemegang saham perusahaan sebesar $200.00 juta serta pembayaran kepada kepentingan non-pengendali.

6. Rasio Keuangan Penting

Rasio Keuangan 30 September 2026 31 Desember 2025
Current Ratio (Aset Lancar / Liabilitas Lancar) 2.71x 1.95x
Liabilitas terhadap Total Aset (Debt to Asset Ratio) 37.25% 36.04%
Liabilitas terhadap Ekuitas (Debt to Equity Ratio) 59.36% 56.35%
Marjin Laba Bruto (Gross Profit Margin) 30.36% 26.14%
Marjin Laba Bersih (Net Profit Margin) 19.21% 18.14%

Kesimpulan

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) membuktikan performa keuangan yang impresif hingga kuartal III-2026. Pertumbuhan dobel digit pada laba bruto dan laba bersih, posisi kas likuid yang sangat kuat di atas $2.27 miliar, serta rasio solvabilitas yang tetap sehat mencerminkan fleksibilitas finansial yang matang untuk menghadapi siklus industri komoditas global.

Tanya Jawab Ringkas (FAQ)

Q: Berapa perolehan laba bersih yang diatribusikan ke entitas induk per 30 September 2026?
A: Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar $683.34 juta, tumbuh 16.35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Q: Bagaimana posisi likuiditas kas AADI saat ini?
A: Likuiditas kas sangat kuat dengan posisi kas dan setara kas melonjak signifikan menjadi $2.28 miliar per 30 September 2026.

Q: Apakah AADI mencatatkan pembagian dividen dalam periode ini?
A: Ya, dalam laporan arus kas pendanaan tercatat pembayaran dividen tunai kepada pemegang saham perusahaan sebesar $200.00 juta.

Disclaimer: Laporan ini disusun murni untuk kepentingan informasi dan analisis keuangan berdasarkan laporan keuangan konsolidasian PT Adaro Andalan Indonesia Tbk per 30 September 2026. Informasi ini tidak dimaksudkan dan tidak boleh ditafsirkan sebagai bentuk rekomendasi formal untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.

Kredit BNI Tembus Rp992,5 Triliun Kuartal III-2026, Pembiayaan Investasi & Sindikasi Melesat Double Digit, Cek Implikasi bagi Investor

Kredit BNI Tembus Rp992,5 Triliun Kuartal III-2026, Pembiayaan Investasi & Sindikasi Melesat Double Digit, Cek Implikasi bagi Investor

MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (IDX: BBNI) mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit yang solid hingga kuartal III-2026. Berdasarkan laporan komposisi kredit konsolidasi (gabungan Rupiah & Valas) per 30 September 2026, total portofolio kredit BNI mencapai Rp992,51 triliun, atau tumbuh 10,34% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp899,53 triliun.

Menara Bank BNI Pejompongan. Dok. BNI

Penyaluran kredit emiten perbankan BUMN ini didominasi oleh segmen produktif, di mana ekspansi kredit investasi dan pembiayaan sindikasi mencatatkan lonjakan double digit.

Jadwal Pembagian Dividen PORT 2026: Siap Guyur Pemegang Saham Rp100,25 Miliar!

Jadwal Pembagian Dividen PORT 2026: Siap Guyur Pemegang Saham Rp100,25 Miliar!

MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk (IDX: PORT) bersiap membagikan dividen interim bagi para pemegang sahamnya untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025. Keputusan ini telah diputuskan oleh Direksi pada 27 Oktober 2026 dan mengantongi persetujuan Dewan Komisaris pada 5 November 2026.

Kegiatan bongkar muat di pelabuhan. Dok. PORT

Berdasarkan keterbukaan informasi perseroan tertanggal 6 November 2026, total dividen interim yang akan dibagikan adalah sebesar sebesar Rp100.250.350.000 atau  Rp 35,60 per saham.

Bagi para investor dan pelaku pasar yang mengincar dividen dari emiten pengelola pelabuhan ini, berikut adalah jadwal lengkap pelaksanaan pembagian dividen interim PORT:

Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi AS, Harga Emas Spot Tertahan di US$ 4.042 per Troi Ons

Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi AS, Harga Emas Spot Tertahan di US$ 4.042 per Troi Ons

MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — Harga emas di pasar global berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan mingguan yang signifikan, meskipun harus merelakan sebagian penguatannya akibat aksi lepas aset (profit taking) pada perdagangan hari ini.

Tumpukan emas batangan. Foto oleh Peggy Marco/Pixabay

Melansir dari Bloomberg, Jumat (6/11/2026), harga emas spot terkoreksi 1,1% ke level US$ 4.042,66 per troi ons pada pukul 11.48 WIB. Kendati melemah hari ini, sang logam mulia masih berpeluang membukukan lonjakan hingga 5% sepanjang pekan ini—menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak Agustus lalu.

TOTL Bagikan Dividen Interim Rp 40 per Saham, Catat Tanggal Penting Ini!

TOTL Bagikan Dividen Interim Rp 40 per Saham, Catat Tanggal Penting Ini!

MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) resmi mengumumkan rencana pembagian dividen interim untuk tahun buku yang berakhir pada 30 September 2026. Keputusan ini telah disetujui oleh Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan pada awal November 2026.

Rapat Umum Pemegang Saham Total Bangun Persada Tbk 2025. Dok. TOTL

Berdasarkan keterbukaan informasi, emiten jasa konstruksi swasta terkemuka ini akan menebar total dividen interim sebesar Rp 136,4 miliar. Dengan jumlah saham yang beredar, setiap pemegang saham berhak mendapatkan dividen tunai sebesar Rp 40 per saham.

IHSG Sesi I Terperosok 1,97% ke Level 4.931, Saham BBCA dan BMRI Pimpin Top Value, Saham NASI Top Gainers

IHSG Sesi I Terperosok 1,97% ke Level 4.931, Saham BBCA dan BMRI Pimpin Top Value, Saham NASI Top Gainers

MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan sesi I hari Jumat (6/11/2026). IHSG ditutup melemah 98,87 poin atau terkoreksi 1,97% ke level 4.931,39, menghapus sebagian besar penguatan tajam yang diraih pada hari sebelumnya.

Bursa Efek Indonesia/IDX

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi pada sesi pertama ini tercatat sebesar Rp 3,42 triliun dengan volume perdagangan mencapai 9,64 miliar lembar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 570,97 ribu kali.

Pelemahan IHSG sejalan dengan tren koreksi yang melanda bursa saham kawasan Asia. Indeks Nikkei 225 di Jepang memimpin kejatuhan dengan merosot 6,75% ke level 57.240. Pelemahan juga diikuti oleh Indeks Straits Times Singapura yang terkikis 2,41% ke 5.172,24, Hang Seng Hong Kong yang turun 1,3% ke 24.480,04, serta SSE Composite China yang melemah 1,16% ke level 3.647,90.

Daftar Top Gainers, Top Losers, dan Saham Teraktif Sesi I

Di tengah tekanan pada indeks acuan, sejumlah saham lapis ketiga mencatatkan penguatan tajam hingga menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA). Di sisi lain, jajaran saham big cap perbankan domestik mendominasi nilai transaksi pasar.

Top Gainers:

  1. PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI): Naik 29,23% (+38 poin) ke Rp 168
  2. PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA): Naik 28,87% (+56 poin) ke Rp 250
  3. PT Champ Resto Indonesia Tbk (ENAK): Naik 26,57% (+38 poin) ke Rp 181
  4. PT Artha Mahiya Investama Tbk (AIMS): Naik 25,00% (+235 poin) ke Rp 1.175
  5. PT Golden Flower Tbk (POLU): Naik 19,93% (+1.475 poin) ke Rp 8.875

Top Losers:

  1. PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK): Turun 9,09% (-1 poin) ke Rp 10
  2. PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI): Turun 9,09% (-1 poin) ke Rp 10
  3. PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ): Turun 8,93% (-5 poin) ke Rp 51
  4. PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA): Turun 8,46% (-11 poin) ke Rp 119
  5. PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY): Turun 7,59% (-6 poin) ke Rp 73

Top Value (Nilai Transaksi Terbesar):

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Rp 228,69 miliar
  2. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Rp 177,32 miliar
  3. PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Rp 161,89 miliar
  4. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Rp 152,79 miliar
  5. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Rp 109,06 miliar

Top Volume (Volume Transaksi Terbanyak):

  1. PT Bumi Resources Tbk (BUMI): 14,25 juta lot
  2. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO): 11,88 juta lot
  3. PT Darma Henwa Tbk (DEWA): 2,93 juta lot
  4. PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR): 2,22 juta lot
  5. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA): 1,84 juta lot

 Baca:

  1. IHSG Ditutup Melesat 2,25% ke Level 5.030, Ditopang Sentimen Positif Domestik dan Global
  2. IPO Saham ANDA Dibuka 5 November 2026, Tawarkan 1,67 Miliar Saham di Harga Rp158–Rp189
  3.  Foreign Sell TLKM Tembus Rp3,98 Triliun, Asing Net Sell Rp1,33 Triliun Selama 8 Hari
  4. Fokus Perkuat Bisnis Inti Perbankan, KB Bank (BBKP) Tuntaskan Divestasi 85% Saham KB Bukopin Finance Senilai Rp 339,96 Miliar
  5.  Bedah Kinerja UNTR Kuartal III-2026: Mengapa Laba BersihTergerus 60,96%?
Disclaimer: Artikel ini merupakan konten jurnalistik dari mediasaham.com yang bertujuan memberikan informasi, bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
 Bedah Kinerja UNTR Kuartal III-2026: Mengapa Laba BersihTergerus 60,96%?

Bedah Kinerja UNTR Kuartal III-2026: Mengapa Laba BersihTergerus 60,96%?

Mediasaham.com, Jakarta — PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp90,33 triliun hingga 30 September 2026, turun 10,08% dibandingkan Rp100,47 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan pendapatan tersebut diikuti penyusutan laba periode berjalan sebesar 64,09% menjadi Rp4,22 triliun dari Rp11,75 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.

Parts Distribution Center (PDC) Jakarta. Dok. UNTR

Ringkasan Kinerja Keuangan UNTR per September 2026

Laporan keuangan konsolidasian interim UNTR menunjukkan tekanan pada kinerja laba selama sembilan bulan pertama 2026. Selain pendapatan yang lebih rendah, perseroan mencatat kerugian penurunan nilai investasi pada ventura bersama dan piutang non-usaha sebesar Rp2,75 triliun. Pos tersebut tidak tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berikut sejumlah indikator utama kinerja keuangan UNTR untuk periode yang berakhir 30 September 2026 dibandingkan 30 September 2025.

Berita Terbaru

    RESEARCH

    • Memuat artikel...

    Belajar Saham

      KONTEN PREMIUM

      • Memuat artikel...

      DIVIDEN