Laporan Keuangan Bima Sakti Pertiwi Tbk (PAMG) per September 2026

Laporan Keuangan Bima Sakti Pertiwi Tbk (PAMG) per September 2026

Mediasaham.com – PT Bima Sakti Pertiwi Tbk (PAMG) mencatat penurunan pendapatan dan berbalik membukukan rugi pada sembilan bulan pertama 2026. Hingga 30 September 2026, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp33,70 miliar, turun 10,78% dibandingkan Rp37,77 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba tahun berjalan yang sebelumnya mencapai Rp965,13 juta berubah menjadi rugi sebesar Rp2,56 miliar.

Penurunan kinerja tersebut terjadi ketika laba kotor dan laba usaha mengalami kontraksi, sementara biaya keuangan dan beban pajak final masih memberikan tekanan terhadap hasil akhir perseroan. Di sisi lain, total aset PAMG meningkat menjadi Rp597,38 miliar pada akhir September 2026, dengan properti investasi sebagai komponen aset terbesar.

Manajemen PT Bima Sakti Pertiwi Tbk. Dokumentasi PAMG

Bunga Deposito Jenius Terbaru 5,25%: Simulasi Rp100 Juta, Rp500 Juta, Rp1 Miliar dan LPS

Bunga Deposito Jenius Terbaru 5,25%: Simulasi Rp100 Juta, Rp500 Juta, Rp1 Miliar dan LPS

Deposito Jenius menjadi salah satu pilihan simpanan berjangka yang dapat dibuka secara digital melalui aplikasi Jenius. Produk deposito Jenius dikenal dengan nama Maxi Saver dan tersedia dalam beberapa pilihan tenor serta mata uang.

Untuk Maxi Saver Rupiah reguler, bunga deposito Jenius saat ini mencapai 5,25% per tahun untuk penempatan minimal Rp250 juta dengan tenor 6, 9, atau 12 bulan. Minimum penempatan Maxi Saver Rupiah adalah Rp10 juta.

Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan calon nasabah. Bunga deposito Jenius maksimal 5,25% tersebut lebih tinggi daripada Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) LPS sebesar 3,75% untuk simpanan rupiah di bank umum pada periode 1 Oktober 2026 sampai 31 Januari 2027.

Artinya, meskipun bank peserta penjaminan LPS, deposito dengan tingkat bunga di atas TBP tidak memenuhi salah satu kriteria penjaminan LPS.

deposito jenius
Ilustrasi Membuka deposito Jenius. Adit Saputra/Mediasaham.com

Bunga Deposito Jenius Terbaru 2026

Jenius menawarkan Maxi Saver sebagai produk deposito berjangka yang dapat dibuka langsung melalui aplikasi. Untuk mata uang Rupiah, pilihan tenor yang tersedia adalah 1, 3, 6, 9, dan 12 bulan. Minimum penempatan sebesar Rp10 juta.

Jumlah Penempatan 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 9 Bulan 12 Bulan
Rp10 juta - Rp99,99 juta 3,75% 4,00% 4,25% 4,25% 4,25%
Rp100 juta - Rp249,99 juta 4,00% 4,25% 4,50% 4,50% 4,50%
≥ Rp250 juta 4,75% 5,00% 5,25% 5,25% 5,25%

Sumber: Jenius. Suku bunga dapat berubah sesuai ketentuan bank.

Dari tabel tersebut, bunga deposito Jenius tertinggi untuk nasabah reguler adalah 5,25% p.a. Bunga tersebut berlaku untuk penempatan minimal Rp250 juta dengan tenor 6, 9, atau 12 bulan.

IHSG Menguat 1,12% ke 5.387,905, Investor Asing Net Sell Rp1,49 Triliun

IHSG Menguat 1,12% ke 5.387,905, Investor Asing Net Sell Rp1,49 Triliun

Mediasaham.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, 22 Oktober 2026. IHSG ditutup pada level 5.387,905, naik 59,545 poin atau 1,12% dibandingkan posisi sebelumnya di 5.328,360.

Meski indeks saham domestik menguat, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell. Berdasarkan laporan IDX Daily Statistics tanggal 22 Oktober 2026, nilai net sell asing pada hari tersebut mencapai Rp1.486,59 miliar atau sekitar Rp1,49 triliun.

IDX Jakarta
Gedung Bursa Efek Indonesia. Adit Saputra / Mediasaham.com

IHSG Bergerak di Rentang 5.185 hingga 5.422

Dalam laporan perdagangan BEI, IHSG mencatatkan level tertinggi 5.422,587 dan level terendah 5.185,527. Indeks akhirnya ditutup pada 5.387,905, lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya.

IndikatorData 22 Oktober 2026
Penutupan IHSG sebelumnya5.328,360
Penutupan IHSG hari ini5.387,905
Perubahan IHSG+59,545 poin
Persentase perubahan+1,12%
Level tertinggi5.422,587
Level terendah5.185,527
Perubahan sepanjang tahun (YTD)-37,69%

Penguatan harian tersebut belum menghapus penurunan IHSG sepanjang tahun berjalan. Dalam laporan yang sama, perubahan IHSG secara year-to-date (YTD) tercatat minus 37,69%. Angka harian dan YTD menggambarkan dua periode pengukuran yang berbeda sehingga perlu dibaca secara terpisah.

Jadwal Pembagian Dividen DMAS, TSPC, dan AXIO Oktober–November 2026, Cek Tanggal Cum Dividen

Jadwal Pembagian Dividen DMAS, TSPC, dan AXIO Oktober–November 2026, Cek Tanggal Cum Dividen

Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan pembagian dividen interim untuk tahun buku 2026. Tiga di antaranya adalah PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC), dan PT Tera Data Indonusa Tbk (AXIO).

Jadwal pembagian dividen ketiga saham tersebut berlangsung mulai akhir Oktober hingga November 2026. DMAS dan AXIO menetapkan tanggal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 28 Oktober 2026, sedangkan TSPC pada 30 Oktober 2026.

Nilai dividen yang dibagikan juga berbeda. DMAS menetapkan dividen interim sebesar Rp29 per saham, TSPC sebesar Rp75 per saham, sedangkan AXIO membagikan Rp8 per saham.

pembagian dividen
Ilustrasi pembagian dividen saham. Radit M. Pase / Mediasaham.com

Berikut rangkuman nilai dividen, perkiraan dividend yield, serta jadwal pembagian dividen DMAS, TSPC, dan AXIO yang perlu diperhatikan investor.

Ringkasan Dividen DMAS, TSPC, dan AXIO 2026

Keterangan DMAS TSPC AXIO
Dividen per saham Rp29 Rp75 Rp8
Total dividen Rp1.397.745.221.900 Rp338.239.822.500 Rp46.721.012.000
Harga saham acuan Rp216 Rp2.530 Rp135
Dividend yield estimasi 13,43% 2,96% 5,93%
Cum dividen reguler dan negosiasi 28 Oktober 2026 30 Oktober 2026 28 Oktober 2026
Tanggal pembayaran 13 November 2026 20 November 2026 19 November 2026

Catatan: Harga saham yang digunakan sebagai acuan perhitungan dividend yield adalah harga penutupan pada 22 Oktober 2026. Dividend yield merupakan estimasi berdasarkan nilai dividen interim, bukan jaminan keuntungan investor.

MACD Saham: Pengertian, Cara Membaca, dan Cara Menggunakannya

MACD Saham: Pengertian, Cara Membaca, dan Cara Menggunakannya

MACD (Moving Average Convergence Divergence) adalah salah satu indikator teknikal yang banyak digunakan trader untuk membaca arah tren, momentum, serta potensi perubahan arah harga saham.

Bagi pemula, MACD mungkin terlihat rumit karena menggunakan beberapa garis dan histogram. Namun, jika dipahami secara bertahap, cara membaca MACD sebenarnya cukup sederhana.

MACD dapat membantu trader menjawab beberapa pertanyaan penting, seperti:

  • Apakah harga saham sedang berada dalam tren naik atau turun?
  • Apakah momentum kenaikan atau penurunan sedang menguat?
  • Kapan muncul sinyal beli atau jual?
  • Apakah terjadi perubahan momentum?
  • Apakah pergerakan harga berpotensi mengalami pembalikan arah?

Artikel ini membahas apa itu MACD saham, komponen MACD, cara membaca MACD, sinyal crossover, histogram, divergence, hingga cara menggabungkan MACD dengan indikator teknikal lainnya.

MACD Saham

Apa Itu MACD?

MACD adalah indikator teknikal yang digunakan untuk mengukur hubungan antara dua moving average atau rata-rata bergerak dari harga saham.

MACD merupakan singkatan dari Moving Average Convergence Divergence. Indikator ini dikembangkan oleh Gerald Appel dan banyak digunakan dalam analisis teknikal untuk membantu membaca tren dan momentum harga.

Berbeda dengan indikator yang hanya melihat apakah harga sudah naik atau turun terlalu jauh, MACD lebih berfokus pada hubungan antara moving average jangka pendek dan jangka panjang.

Secara sederhana, ketika moving average jangka pendek bergerak semakin jauh di atas moving average jangka panjang, momentum kenaikan biasanya semakin kuat. Sebaliknya, ketika moving average jangka pendek berada di bawah moving average jangka panjang, momentum penurunan cenderung lebih dominan.

Laporan Keuangan UNVR September 2026, Laba Naik Jadi Rp4,20 triliun

Laporan Keuangan UNVR September 2026, Laba Naik Jadi Rp4,20 triliun

Mediasaham.com – PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatat penjualan bersih sebesar Rp25,75 triliun pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Angka tersebut meningkat 7,16% dibandingkan penjualan bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp24,03 triliun.

Meski penjualan tumbuh, laba bruto perseroan sedikit menurun menjadi Rp11,62 triliun dari Rp11,74 triliun. Di sisi lain, laba usaha meningkat menjadi Rp4,09 triliun, sedangkan laba periode berjalan naik menjadi Rp4,20 triliun dari Rp3,34 triliun pada periode yang sama tahun 2025.

Kenaikan laba periode berjalan turut dipengaruhi oleh hasil operasi yang dihentikan, termasuk laba penjualan operasi yang dihentikan sebesar Rp870,27 miliar pada 2026. Sementara itu, posisi kas dan setara kas pada 30 September 2026 tercatat sebesar Rp2,03 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp5,71 triliun pada 31 Desember 2025.

Kantor Unilever
Kantor Pusat PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Foto: unilever.co.id

Ringkasan Kinerja Keuangan UNVR September 2026

Berikut perbandingan kinerja keuangan konsolidasian PT Unilever Indonesia Tbk untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026 dan 2025. Seluruh angka disajikan dalam rupiah, kecuali laba per saham.

Laba Haloni Jane Tbk (HALO) Melejit 160% Q3 2026

Laba Haloni Jane Tbk (HALO) Melejit 160% Q3 2026

Mediasaham.com — PT Haloni Jane Tbk (HALO) membukukan laba periode berjalan sebesar Rp20,52 miliar pada sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Capaian tersebut melonjak 160,18% dibandingkan laba Rp7,88 miliar pada periode yang sama tahun 2025.

Pertumbuhan laba tersebut terjadi meski penjualan perusahaan hanya meningkat tipis. Perbaikan terutama ditopang oleh penurunan beban pokok penjualan serta berkurangnya beban lainnya.

Produk Saham HALO
Salah satu produk PT Haloni Jane Tbk. Sumber foto: halonijane.co.id

Penjualan HALO Naik Tipis 0,45%

HALO mencatat penjualan sebesar Rp158,71 miliar hingga September 2026. Angka tersebut naik tipis 0,45% dibandingkan penjualan Rp157,99 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, beban pokok penjualan turun cukup signifikan menjadi Rp119,23 miliar dari Rp133,60 miliar.

Penurunan beban pokok penjualan sebesar 10,76% tersebut membuat laba bruto HALO meningkat menjadi Rp39,48 miliar, dibandingkan Rp24,39 miliar pada sembilan bulan 2025.

Dengan demikian, laba bruto perusahaan tumbuh sekitar 61,86%.

Laporan Keuangan PJAA  September 2026: Laba Bersih Anjlok 56,5% Jadi Rp25,3 Miliar

Laporan Keuangan PJAA September 2026: Laba Bersih Anjlok 56,5% Jadi Rp25,3 Miliar

JAKARTA, Mediasaham.com — PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) membukukan laba bersih sebesar Rp25,30 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Capaian tersebut turun 56,51% dibandingkan laba bersih Rp58,19 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Penurunan laba terjadi di tengah pendapatan usaha yang juga melemah. Hingga September 2026, PJAA mencatat pendapatan usaha Rp781,77 miliar, turun 2,10% dari Rp798,53 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Logo Pembangunan Jaya Ancol

Pendapatan PJAA Turun 2,10%

Pendapatan usaha PJAA hingga September 2026 mencapai Rp781,77 miliar, dibandingkan Rp798,53 miliar pada sembilan bulan pertama 2025. Namun, beban pokok pendapatan dan beban langsung meningkat menjadi Rp463,07 miliar dari Rp440,03 miliar. Kenaikan beban tersebut menekan laba bruto perusahaan. Dengan demikian, laba bruto PJAA turun 11,10% menjadi Rp318,70 miliar dari Rp358,50 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pos 9M 2026 9M 2025 Perubahan
Pendapatan usaha Rp781,77 miliar Rp798,53 miliar -2,10%
Beban pokok pendapatan & beban langsung Rp463,07 miliar Rp440,03 miliar +5,24%
Laba bruto Rp318,70 miliar Rp358,50 miliar -11,10%

Laba Usaha PJAA Merosot 28,91%

Tekanan terhadap kinerja PJAA berlanjut pada tingkat operasional. Beban umum dan administrasi tercatat Rp186,34 miliar, relatif turun dari Rp187,51 miliar. Sementara itu, beban penjualan turun tipis menjadi Rp23,75 miliar dari Rp23,96 miliar. Namun, penghasilan lainnya juga turun menjadi Rp25,81 miliar dari Rp28,38 miliar. Beban lain-lain meningkat menjadi Rp27,08 miliar dari Rp19,70 miliar. Akibatnya, laba usaha PJAA turun 28,91% menjadi Rp116,80 miliar dari Rp164,29 miliar pada periode sembilan bulan 2025.
Laporan Keuangan PTPP September 2026: Laba yang Diatribusikan ke Pemilik Entitas Induk Meroket Jadi Rp259,97 Miliar

Laporan Keuangan PTPP September 2026: Laba yang Diatribusikan ke Pemilik Entitas Induk Meroket Jadi Rp259,97 Miliar

JAKARTA, Mediasaham.com — PT PP (Persero) Tbk (PTPP) membukukan laba tahun berjalan Rp4,57 miliar pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Laba tersebut turun dibandingkan Rp15,25 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, pendapatan usaha PTPP mencapai Rp9,37 triliun hingga September 2026, turun dari Rp10,74 triliun pada periode yang sama 2025.

Jalan Tol Lingkar Luar Bogor. Sumber foto: ptpp.co.id

Pendapatan PTPP Turun 12,69%

Pendapatan usaha PT PP tercatat Rp9,37 triliun pada Januari-September 2026, turun Rp1,36 triliun atau sekitar 12,69% dibandingkan Rp10,74 triliun pada periode yang sama 2025.

Beban pokok pendapatan juga turun dari Rp9,12 triliun menjadi Rp8,20 triliun. Namun, penurunan beban pokok tersebut tidak sepenuhnya mengimbangi penurunan pendapatan, sehingga laba kotor turun menjadi Rp1,17 triliun dari Rp1,62 triliun.

Uraian 9M 2026 9M 2025 Perubahan
Pendapatan usaha Rp9,37 triliun Rp10,74 triliun -12,69%
Beban pokok pendapatan Rp8,20 triliun Rp9,12 triliun -10,04%
Laba kotor Rp1,17 triliun Rp1,62 triliun -27,61%
Beban usaha Rp550,97 miliar Rp595,32 miliar -7,45%
Kerugian penurunan nilai Rp180,98 miliar Rp224,97 miliar -19,55%
Beban keuangan Rp1,31 triliun Rp1,51 triliun -13,08%
Laba sebelum pajak Rp31,91 miliar Rp45,84 miliar -30,39%
Laba tahun berjalan Rp4,57 miliar Rp15,25 miliar -69,99%

Laba Sebelum Pajak Rp31,91 Miliar

Setelah laba kotor, PTPP mencatat beban usaha Rp550,97 miliar, kerugian penurunan nilai Rp180,98 miliar, serta beban keuangan Rp1,31 triliun.

Di sisi lain, perseroan mencatat bagian laba dari ventura bersama sebesar Rp717,61 miliar dan bagian laba entitas asosiasi Rp29,92 miliar. Pendapatan lainnya tercatat Rp1,56 triliun, sementara beban lainnya mencapai Rp1,13 triliun.

PTPP juga mencatat beban pajak final Rp281,10 miliar. Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan neto Rp27,34 miliar, laba tahun berjalan tercatat Rp4,57 miliar.

PT Artha Mahiya Investama (AIMS) Rugi Rp706 Juta hingga September 2026

PT Artha Mahiya Investama (AIMS) Rugi Rp706 Juta hingga September 2026

Mediasaham.com, Jakarta — PT Artha Mahiya Investama Tbk (IDX: AIMS) membukukan pendapatan Rp928 juta hingga 30 September 2026. Pendapatan tersebut turun dibandingkan periode sembilan bulan pertama 2025 yang mencapai Rp1,28 miliar.

Berdasarkan laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain yang tidak diaudit, perseroan mencatat rugi bersih Rp706,03 juta pada sembilan bulan 2026, meningkat dibandingkan rugi bersih Rp172,62 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Logo PT Artha Mahiya Investama (AIMS)

Pendapatan Turun 27,43%

Pendapatan PT Artha Mahiya Investama Tbk (AIMS) turun Rp350,75 juta atau sekitar 27,43% dari Rp1,28 miliar pada Januari-September 2025 menjadi Rp928 juta pada Januari-September 2026.

Perseroan tidak mencatat beban pokok pendapatan pada kedua periode, sehingga laba kotor tercatat sama dengan pendapatan, yakni Rp928 juta pada 2026 dan Rp1,28 miliar pada 2025.

Uraian9M 20269M 2025Perubahan
PendapatanRp928,00 jutaRp1,28 miliar-27,43%
Beban pokok pendapatan---
Laba kotorRp928,00 jutaRp1,28 miliar-27,43%
Beban umum dan administrasiRp1,63 miliarRp1,45 miliar+12,52%
Lain-lainRp4,93 jutaRp3,62 juta+36,23%
Rugi sebelum pajakRp706,03 jutaRp172,62 juta+309,02%
Rugi bersihRp706,03 jutaRp172,62 juta+309,02%

Beban Umum dan Administrasi Naik

Beban umum dan administrasi tercatat Rp1,63 miliar hingga September 2026, naik Rp181,35 juta atau 12,52% dibandingkan Rp1,45 miliar pada periode yang sama 2025.

Selain itu, pos lain-lain tercatat sebesar Rp4,93 juta, meningkat dari Rp3,62 juta pada tahun sebelumnya.

Kombinasi pendapatan yang turun dan beban umum serta administrasi yang meningkat membuat rugi sebelum pajak naik menjadi Rp706,03 juta dari Rp172,62 juta.

Berita Terbaru

    Konten Premium

      Dividen Saham