Chandra Asri (TPIA) Siapkan Buyback Rp2 Triliun, Maksimal 1,6 Miliar Saham

Chandra Asri (TPIA) Siapkan Buyback Rp2 Triliun, Maksimal 1,6 Miliar Saham

MEDIASAHAM.COM - PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berencana melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan dana maksimal Rp2 triliun. Aksi korporasi tersebut akan dilakukan mulai 29 Oktober 2026 hingga 28 Januari 2027.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang diterbitkan TPIA pada 29 Oktober 2026, perseroan akan menggunakan kas internal secara bertahap untuk membiayai aksi buyback, termasuk biaya transaksi, komisi broker, dan biaya lain yang berkaitan dengan pembelian kembali saham.

Chandra Asri Pacific Tbk (chandra-asri.com) 

TPIA Siapkan Rp2 Triliun untuk Buyback

Dalam keterbukaan informasi tersebut, Chandra Asri menyatakan dana yang dialokasikan untuk pembelian kembali saham mencapai sebanyak-banyaknya Rp2.000.000.000.000 atau Rp2 triliun.

Perseroan menegaskan dana tersebut berasal sepenuhnya dari kas internal. Dengan demikian, pelaksanaan buyback tidak akan menggunakan sumber pendanaan eksternal.

TPIA menyatakan memiliki arus kas yang cukup untuk membiayai transaksi buyback sekaligus menjalankan kegiatan usaha dan belanja modal.

Anak Usaha DOID Gelar BUMA School: Jangkau 2.236 Siswa SMK, 400 Alumni Terbukti Terserap Kerja

Anak Usaha DOID Gelar BUMA School: Jangkau 2.236 Siswa SMK, 400 Alumni Terbukti Terserap Kerja

MEDIASAHAM.COM – PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), anak usaha PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), terus memperkuat program pendidikan vokasi melalui BUMA School. Sejak pertama kali dijalankan pada 2018, program tersebut telah menjangkau 2.236 siswa dari berbagai SMK di Indonesia.

Program yang dirancang untuk memperkuat kesiapan kerja generasi muda tersebut juga telah melibatkan dan meningkatkan kapasitas 32 guru serta bekerja sama dengan 16 SMK di tujuh provinsi.

BUMA School

200 Siswa Ikuti BUMA School Tahun Ajaran 2025/2026

Pada tahun ajaran 2025/2026, BUMA School diikuti oleh 200 siswa dari 10 SMK yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Seluruh peserta berhasil menyelesaikan rangkaian program dan memperoleh sertifikasi Basic Mechanic Course. Dari jumlah tersebut, sebanyak 170 siswa juga berhasil memperoleh sertifikasi kompetensi mekanik dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Garuda Metalindo (BOLT) Targetkan Laba 2026 Tumbuh 15%, Ekspor Dipatok Naik 5-10%

Garuda Metalindo (BOLT) Targetkan Laba 2026 Tumbuh 15%, Ekspor Dipatok Naik 5-10%

MEDIASAHAM.COM – PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT) menargetkan pertumbuhan laba sebesar 15% pada 2026. Perseroan mengandalkan lokalisasi proyek OEM yang telah dikembangkan pada tahun-tahun sebelumnya untuk mendorong realisasi bisnis tahun ini.

Target tersebut disampaikan manajemen Garuda Metalindo dalam paparan publik tahunan. Dalam agenda tersebut, manajemen juga memaparkan strategi ekspor, peluang industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), hingga rencana ekspansi perseroan.

Produk Metalindo (BOLT)

BOLT Bidik Laba Tumbuh 15%

Investor Relations Garuda Metalindo menjelaskan bahwa perseroan menargetkan profit tumbuh 15% pada 2026.

Salah satu strategi yang disiapkan adalah mempercepat lokalisasi proyek OEM yang telah dikerjakan pada tahun-tahun sebelumnya agar dapat segera direalisasikan pada 2026.

Strategi lokalisasi tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan untuk memperluas basis bisnis dan meningkatkan kontribusi proyek OEM terhadap kinerja Garuda Metalindo.

Metrodata Electronics (MTDL) Raih Pendapatan Rp22,09 Triliun, Laba Naik 2,33% hingga September 2026

Metrodata Electronics (MTDL) Raih Pendapatan Rp22,09 Triliun, Laba Naik 2,33% hingga September 2026

Mediasaham.com, Jakarta — PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp22,09 triliun hingga September 2026, meningkat 17,46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp18,81 triliun.

Pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti kenaikan laba kotor dan laba bersih. Laba tahun berjalan MTDL mencapai Rp688,10 miliar, naik 2,33% dari Rp672,41 miliar pada periode yang sama 2025. Namun, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 5,47% menjadi Rp443,92 miliar.

Ilustrasi Kinerja Metrodata Electronics Tbk (MTDL). Radit M. Pase/Mediasaham.com

Jadwal Dividen JAPFA 2026: JPFA Tebar Dividen Interim Rp1,05 Triliun, Yield 5,06%

Jadwal Dividen JAPFA 2026: JPFA Tebar Dividen Interim Rp1,05 Triliun, Yield 5,06%

Jadwal Dividen JAPFA 2026: JPFA Tebar Dividen Interim Rp1,05 Triliun, Yield 5,06% - Mediasaham.com
MEDIASAHAM.COM, JAKARTA — PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) resmi mengumumkan rencana pembagian dividen interim untuk tahun buku 2026. Emiten unggas (poultry) terkemuka ini menyiapkan total dana mencapai Rp1,05 triliun bagi para pemegang sahamnya.

Berdasarkan pengumuman resmi perseroan pada Rabu (28/10/2026), keputusan pembagian dividen interim ini telah ditetapkan oleh Direksi dan memperoleh persetujuan Dewan Komisaris pada 27 Oktober 2026. Alokasi dividen mengacu pada kinerja laba bersih perseroan selama periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026.

Pakan ternak ayam JPFA

Japfa Comfeed akan membagikan dividen tunai interim dengan nilai total Rp1.052.780.364.090, atau setara dengan Rp90 per lembar saham.

Mengacu pada harga penutupan saham JPFA per 27 Oktober 2026 di level Rp1.780 per lembar saham, maka nilai dividen yield interim yang diperoleh investor adalah sebesar 5,06%. Tingkat pengembalian langsung ini tergolong menarik untuk ukuran dividen interim.

Dividen DMAS dari Tahun ke Tahun: Histori Pembagian, Tren 5-10 Tahun dan Prospeknya

Dividen DMAS dari Tahun ke Tahun: Histori Pembagian, Tren 5-10 Tahun dan Prospeknya

Mediasaham.com — PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), pengembang kawasan industri Terpadu Kota Deltamas, memiliki rekam jejak (track record) yang teruji dalam mendistribusikan dividen tunai kepada para pemegang sahamnya sejak mencatatkan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia pada 2015.

Sebagai salah satu emiten yang dikenal royal membagikan laba, histori dividen DMAS mencatatkan fluktuasi nominal dari tahun ke tahun. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh kinerja penjualan lahan (marketing sales), realisasi laba bersih, serta kebijakan dividen interim maupun dividen final perusahaan.

Dividen DMAS dari Tahun ke Tahun

Lantas, bagaimana rincian histori pembagian dividen DMAS selama rentang 5 hingga 10 tahun terakhir, serta berapa dividen kumulatif yang dibagikan pada 2026? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Rangkuman Kinerja IHSG 28 Oktober 2026: IHSG Menguat 0,31%, Asing Beli Bersih Rp665,22 miliar, BBCA Rajai Transaksi dan KOPI Jadi Top Gainer

Rangkuman Kinerja IHSG 28 Oktober 2026: IHSG Menguat 0,31%, Asing Beli Bersih Rp665,22 miliar, BBCA Rajai Transaksi dan KOPI Jadi Top Gainer

Mediasaham.com - IHSG menguat pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 5.282,312 atau naik 16,182 poin setara 0,31% dibandingkan penutupan sebelumnya di 5.266,130.

Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia mencapai nilai Rp15,88 triliun dengan volume sekitar 31,54 miliar saham dan frekuensi 1,54 juta kali transaksi. Investor asing mencatatkan beli bersih atau net buy sebesar Rp665,22 miliar.

Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia. Adit Saputra / Mediasaham.com

Investor Asing Catat Net Buy Rp665,22 Miliar

Aktivitas investor asing menjadi salah satu sorotan dalam perdagangan saham hari ini. Investor asing membukukan beli bersih sebesar Rp665,22 miliar atau sekitar US$36,58 juta.

Pergerakan harian tersebut berbeda dengan akumulasi transaksi sejak awal tahun. Secara YTD, investor asing masih mencatatkan jual bersih sebesar Rp96.706,15 miliar atau sekitar Rp96,71 triliun. Dalam denominasi dolar AS, nilai jual bersih kumulatif tersebut tercatat sekitar US$5,32 miliar.

HATM Beli Kapal Bulk Carrier Rp457 Miliar, Bakal Disewakan Jangka Panjang ke Pihak Internasional

HATM Beli Kapal Bulk Carrier Rp457 Miliar, Bakal Disewakan Jangka Panjang ke Pihak Internasional

MEDIASAHAM.COM – PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) melakukan transaksi material berupa pembelian satu unit kapal jenis bulk carrier senilai US$25,6 juta atau sekitar Rp457,11 miliar.

Transaksi tersebut dilakukan pada 26 Oktober 2026 dengan pihak ketiga yang tidak memiliki hubungan afiliasi dengan perseroan, yakni Coastline Shipping Limited.

Kapal Bulk Carrier
Ilustrasi Kapal Bulk Carrier UNION LOTUS. Adit Saputra/Mediasaham.com 

HATM Beli Kapal Bulk Carrier UNION LOTUS

Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), objek transaksi merupakan satu unit kapal bulk carrier bernama UNION LOTUS. Setelah transaksi, kapal tersebut akan berganti nama menjadi HABCO ANTLIA.

Nilai pembelian kapal mencapai US$25,6 juta. Jika menggunakan kurs tengah Bank Indonesia (BI) per 30 Juni 2026 sebesar Rp17.856 per dolar AS, nilai transaksi tersebut setara dengan Rp457,11 miliar.

Keterangan Detail
Emiten PT Habco Trans Maritima Tbk
Kode saham HATM
Objek transaksi 1 unit kapal Bulk Carrier
Nama kapal UNION LOTUS
Nama baru HABCO ANTLIA
Nilai transaksi US$25,6 juta
Nilai setara rupiah Rp457,11 miliar
Pihak penjual Coastline Shipping Limited
Hubungan dengan HATM Pihak ketiga nonafiliasi
Tanggal transaksi 26 Oktober 2026

Nilai Transaksi Capai 27,92% dari Ekuitas HATM

Transaksi pembelian kapal tersebut tergolong sebagai transaksi material karena nilainya mencapai 27,92% dari ekuitas perseroan.

HATM mencatat ekuitas sebesar Rp1,637 triliun berdasarkan laporan keuangan yang telah direviu oleh KAP Gideon Adi & Rekan per 30 Juni 2026.

Meski masuk kategori transaksi material, perseroan menyatakan transaksi tersebut tidak memerlukan persetujuan RUPS sesuai dengan ketentuan POJK No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama.

Baca:

  1. BSI (BRIS) Siapkan Kas Rp 500 Miliar untuk Buyback Saham
  2. Bahtera Bumi Raya (PGJO) Dirikan Anak Usaha Baru, Bidik Pengembangan Bisnis Logistik
  3. HATM Beli Kapal Bulk Carrier Rp457 Miliar, Bakal Disewakan Jangka Panjang ke Pihak Internasional
  4. Pukul Rata Kanan Borong Saham MMIX, Kini Kuasai 4,33% Saham
  5. Bank Ina (BINA) Siapkan Private Placement 80 Juta Saham, Pelaksanaan 3 November 2026
  6. MESOP Mitratel Rp582: Harga Eksekusi Opsi Saham MTEL Lebih Mahal 51% dari Harga Pasar!
  7. Market Cap BBCA Anjlok Rp385 Triliun, Nilai Saham Djarum Turun Rp211 Triliun
  8. Perkuat Layanan Offshore, Anak Usaha CDIA Operasikan Kapal MPSV Berteknologi Canggih DP Class III

HATM Ingin Tambah Armada untuk Penuhi Permintaan Pelanggan

Manajemen HATM menjelaskan bahwa salah satu pertimbangan utama pembelian kapal tersebut adalah keterbatasan jumlah armada yang dimiliki perseroan untuk memenuhi permintaan layanan dari pelanggan.

Dengan penambahan kapal HABCO ANTLIA, perseroan berharap kapasitas armadanya meningkat sehingga dapat mengakomodasi permintaan layanan dari para pelanggan.

Perseroan juga memperkirakan pengoperasian kapal tersebut dapat memberikan tambahan pendapatan. Pada akhirnya, HATM menargetkan transaksi ini dapat meningkatkan kinerja keuangan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.

Kapal Akan Disewakan dengan Kontrak Jangka Panjang

Menariknya, kapal yang dibeli HATM tersebut nantinya akan disewakan melalui skema time charter.

Perseroan menyebut kapal tersebut akan disewakan berdasarkan kontrak jangka panjang kepada pihak ketiga dari luar negeri atau internasional yang tidak memiliki hubungan afiliasi dengan HATM.

Skema tersebut berpotensi memberikan sumber pendapatan dari pengoperasian kapal dalam jangka panjang. Namun, keterbukaan informasi HATM tidak mengungkapkan nilai kontrak sewa maupun besaran pendapatan yang akan diperoleh dari kontrak tersebut.

Aset Lancar HATM Diproyeksi Turun, Aset Tidak Lancar Naik

Dari sisi kondisi keuangan, transaksi pembelian kapal tersebut akan mengubah struktur aset HATM.

Perseroan memperkirakan nilai aset lancar akan mengalami penurunan sebesar 24,76%. Di sisi lain, nilai aset tidak lancar diperkirakan meningkat sebesar 33,36%.

Perubahan tersebut dihitung dengan menggunakan angka dalam laporan keuangan limited review per 30 Juni 2026 yang telah disampaikan HATM melalui sistem pelaporan BEI pada 21 Oktober 2026.

Transaksi Pembelian Kapal Dinilai Wajar

HATM juga telah memperoleh laporan pendapat kewajaran dari Kantor Jasa Penilai Publik Iskandar dan Rekan dengan nomor 00122/2.0118-00/BS/05/0520/1/X/2026.

Berdasarkan laporan tersebut, rencana transaksi pembelian kapal dinyatakan wajar.

HATM Bidik Pertumbuhan Pendapatan dan Nilai Pemegang Saham

Penambahan armada menjadi bagian dari strategi HATM untuk meningkatkan kapasitas layanan di tengah permintaan pelanggan yang menurut perseroan belum sepenuhnya dapat dipenuhi dengan jumlah kapal yang tersedia saat ini.

Dengan kapal baru yang akan dioperasikan dan disewakan melalui kontrak time charter jangka panjang, perseroan berharap dapat meningkatkan pendapatan dan kinerja keuangan.

Manajemen juga menyatakan peningkatan kinerja tersebut pada akhirnya diharapkan menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham, termasuk memberikan potensi dividen.

Namun, besaran tambahan pendapatan maupun kontribusi laba dari kapal HABCO ANTLIA belum diungkapkan dalam keterbukaan informasi transaksi material tersebut.


Disclaimer: Artikel ini merupakan konten jurnalistik dari mediasaham.com yang bertujuan memberikan informasi, bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan mediasaham.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Perkuat Layanan Offshore, Anak Usaha CDIA Operasikan Kapal MPSV Berteknologi Canggih DP Class III

Perkuat Layanan Offshore, Anak Usaha CDIA Operasikan Kapal MPSV Berteknologi Canggih DP Class III

CSI Perluas Kapabilitas Offshore Melalui Elara Dalimbar 1, Perkuat Layanan Maritim Nasional

JAKARTA, MEDIASAHAM.COM — PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), melalui anak usahanya PT Chandra Shipping International (CSI), terus mengembangkan kapabilitas layanan logistik maritim untuk mendukung kebutuhan industri energi dan infrastruktur di Indonesia. Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui pengoperasian Multi-Purpose Support Vessel (MPSV) Elara Dalimbar 1, yang memperluas kemampuan CSI dalam melayani pekerjaan offshore dengan kebutuhan teknis yang lebih kompleks.

Ilustrasi Kapal MPSV Berteknologi Canggih DP Class III. Adit Saputra/Mediasaham.com

Pengembangan ini merupakan bagian dari upaya CSI untuk memperkuat portofolio bisnis maritim, meningkatkan daya saing layanan, serta mengambil bagian dalam mendukung kebutuhan operasional industri energi dan infrastruktur maritim nasional.

Kapal MPSV Berbendera Indonesia Pertama Berteknologi DP Class III

Elara Dalimbar 1, yang dioperasikan oleh PT ELPI Trans Cargo (ETC) selaku anak usaha CSI, merupakan MPSV berbendera Indonesia pertama yang memiliki kemampuan Dynamic Positioning (DP) Class III. Teknologi ini memungkinkan kapal mempertahankan posisi dan arah secara presisi tanpa harus bergantung pada sistem penjangkaran konvensional, bahkan dalam kondisi lingkungan ekstrem seperti angin kencang, gelombang tinggi, dan arus deras.

Kemampuan tersebut mendukung pelaksanaan pekerjaan offshore yang memerlukan tingkat presisi, keselamatan, dan keandalan tinggi, termasuk kegiatan subsea, serta memperluas jenis layanan maritim yang dapat ditawarkan CSI kepada pelaku industri.

Market Cap BBCA Anjlok Rp385 Triliun, Nilai Saham Djarum Turun Rp211 Triliun

Market Cap BBCA Anjlok Rp385 Triliun, Nilai Saham Djarum Turun Rp211 Triliun

Market Cap BBCA Anjlok Rp385 Triliun, Nilai Saham Djarum Turun Rp211 Triliun

MEDIASAHAM.COM – Pergerakan harga saham emiten perbankan raksasa, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), mengalami tekanan tajam sepanjang tahun 2026. Hingga penutupan perdagangan pada 27 Oktober 2026, harga saham BBCA terkoreksi ke level Rp4.900 per saham, mengalami penurunan signifikan dari posisi awal tahun yang sempat bertengger di level Rp8.025 per saham.

Koreksi harga saham perbankan big cap ini berdampak langsung terhadap kapitalisasi pasar (market capitalization) BCA yang menyusut hingga ratusan triliun rupiah dalam kurun waktu kurang dari 10 bulan.

Bank BCA. Foto by Shutterstock.com

Berdasarkan kalkulasi data kepemilikan saham beredar sebanyak 123,28 miliar saham, nilai market cap BBCA pada 2 Januari 2026 awalnya tercatat mencapai Rp989,28 triliun. Namun, dengan harga penutupan per 27 Oktober 2026 di Rp4.900, market cap BBCA kini tergerus menjadi Rp604,05 triliun.

Secara akumulasi, kapitalisasi pasar saham BCA telah menguap sebesar Rp385,24 triliun atau merosot sebesar 38,94% sejak awal tahun (year-to-date).

Berita Terbaru

    Konten Premium

      Dividen Saham