Hukum Investasi Saham Syariah yang Perlu Anda Ketahui

  • Share
hukum investasi saham syariah

Sekarang ini semakin banyak calon investor yang tertarik menekuni investasi saham syariah. Terutama para investor yang berasal dari kalangan muslim sebab perlu memperhatikan status halal-haram suatu transaksi muamalah. Maka dari itu, tidak mengherankan jika banyak yang bertanya-tanya tentang hukum investasi saham syariah dalam islam.

Perkembangan pasar modal terjadi dengan sangat dinamis dari waktu ke waktu. Selain pasar modal yang menjual jenis saham konvensional, kini ada juga jenis saham yang dimasukkan dalam kategori syariah. Sehingga saham jenis ini diharapkan bisa menjadi sarana bagi umat muslim untuk menjalankan investasi di pasar modal sesuai prinsip syariat dalam islam.

Apa Itu Saham Syariah?

Sebelum membahas secara lebih jauh terkait hukum berinvestasi saham syariah, tidak ada salahnya jika terlebih dahulu Anda perlu mengenal apa itu saham syariah. Hal ini bertujuan agar Anda bisa memahami secara lebih mendalam terkait seluk-beluk pasar modal syariah.

Ringkasnya, pasar modal syariah adalah seluruh kegiatan di pasar modal yang jenis usahanya tidak bertentangan dengan prinsip-prinspi dalam islam. Diantaranya adalah tidak menjalankan usaha perjudian ataupun hal-hal yang berkaitan dengan unsu ribawi. Tempat belajar saham terbaik yang digunakan untuk mempelajari jenis saham juga sering memaparkan sejarah saham Syariah ini.

Kelahiran pasar modal syariah sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1997 yang lalu dengan diterbitkannya reksadana syariah pertama pada tahun tersebut. Perkembangan tersebut kemudian diikuti dengan diluncurkannya Jakarta Islamic Index (JII) sebagai indeks saham syariah pertama. Indeks saham ini terdiri dari 30 saham syariah paling likuid di Indonesia.

Jadi saham syariah adalah jenis saham dari suatu badan usaha yang unit usahanya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip islam. Dengan demikian, tidak semua saham bisa dikategorikan sebagai saham syariah.

Kriteria Saham Syariah (Emiten)

Agar sebuah saham bisa dikategorikan sebagai saham syariah, tentu tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi agar saham tersebut bisa dikategorikan ke dalam saham syariah.

Sebagai informasi, berikut adalah beberapa kriteria untuk mengelompokkan apakah saham tersebut termasuk ke dalam jenis syariah atau tidak.

  1. Emiten dan perusahaa publik yang secara jelas menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha emiten dan perusahaan publik tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
  2. Emiten dan perusahaan publik yang dalam anggaran dasarnya tidak menyatakan bahwa kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip syariah namun memenuhi kriteria sebagai berikut :
  • Kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip syariah yakni tidak melakukan kegiatan usaha seperti perjuduan, perdagangan tanpa penyerahan barang/jasa, bank berbasis bunnga, perusahaan pembiayaan berbasis bunga, jual beli yang di dalamnya mengandung ketidak-pastian, dan ataupun usaha yang haram.
  • Rasio total hutang berbasis bunga dibanding total ekuitas tidak lebih dari 45%.
  • Rasio total pendapatan bunga dan total pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan total pendapatan usaha dan pendapatan lain tidak lebih dari 10%.

Jika suatu usaha atau emiten saham memenuhi kriteria tersebut umumnya akan dikelompokkan ke dalam saham berbasis syariah.

Hukum Investasi Saham Syariah

Setelah mengetahui jenis dan kriteria saham syariah, Anda mungkin masih bertanya-tanya mengenai hukum investasi saham berbasis syariah. Sebab masih banyak orang yang merasa bahwa dunia pasar modal termasuk ke dalam area yang masih abu-abu untuk ditekuni.

Sejumlah pendapat mengatakan bahwa secara umum, hukum investasi saham syariah adalah aktivitas yang halal. Tentu dengan syarat bahwa perusahaan atau saham yang dibeli tersebut tidak menjalankan aktivitas usaha yang melanggar syariat.

Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI menjelaskan setidaknya terdapat tiga pendapat ulama yang membolehkan mengenai investasi saham berbasis syariah. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pemilik saham adalah mitra dalam perseroan sesuai dengan saham yang dimilikinya.

Meskipun fatwa mengenal ke-halal-an investasi saham ini tidak mengikat, namun fatwa DSN MUI bisa menjadi salah satu rujukan yang bisa dipertimbangkan. Namun jika Anda berfatwa sebaliknya bahwa investasi saham adalah hal yang dilarang, maka tidak ada anjuran atau paksaan untuk menekuni invetasi saham berbasis syariah.

Demikianlah ulasan lengkap mengenai hukum investasi saham syariah yang perlu Anda ketahui. Kini dengan adanya pembahasan tersebut, Anda bisa memiliki gambaran lebih mengenai seluk-beluk dunia saham syariah di Indonesia.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.