Hak dan Kewajiban Investor Dalam Undang-undang

  • Share
ha dan kewajiban investor

Jika Anda merupakan orang yang ‘melek’ investasi, mungkin Anda sudah tidak asing lagi dengan sebutan ‘investor’. 

Ya, investor adalah individu, sekelompok orang, entitas, maupun lembaga yang menanamkan modalnya di suatu perusahaan dengan harapan untuk memperoleh keuntungan atau timbal balik di masa mendatang. Singkatnya, investor ini merupakan sebutan bagi seseorang maupun entitas yang melakukan investasi atau penanaman modal.

Istilah penanaman modal ini dijelaskan di dalam UU nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, dengan pengertian bahwa Penanaman modal adalah segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia.

Modal yang dimaksud dapat berupa aset dalam bentuk uang ataupun bentuk lain (non-uang) yang dimiliki oleh penanam modal yang mempunyai nilai ekonomis. 

Nah, selain harus mengetahui apa itu investor atau penanam modal, Anda juga harus tahu hak dan kewajiban seorang investor. Apa saja hak dan kewajiban investor dalam penanaman modal?

Hak dan Kewajiban Penanam Modal

Hak dan Kewajiban Penanam Modal (investor) ini tertuang dalam pasal 14 dan 15 UU Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, yaitu sebagai berikut:

Setiap penanam modal berhak mendapat:

  1. kepastian hak, hukum, dan perlindungan;
  2. informasi yang terbuka mengenai bidang usaha yang dijalankannya;
  3. hak pelayanan, dan
  4. berbagai bentuk fasilitas kemudahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Setiap penanam modal berkewajiban:

  1. menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik;
  2. melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan;
  3. membuat laporan tentang kegiatan penanaman modal dan menyampaikannya kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal;
  4. menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan usaha penanaman modal, dan
  5. mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam UU tersebut bahwa penanaman modal terbagi menjadi dua, yaitu penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing.

Penanaman Modal Dalam Negeri adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri.

Sedangkan Penanaman Modal Asing atau yang biasa disebut PMA adalah kegiatan menanam modal, yang dilakukan oleh penanam modal asing dan bertujuan agar dapat melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia. Penanaman modal dapat menggunakan modal asing seluruhnya atau bergabung dengan modal dalam negeri.

Penanaman modal asing ini dibahas dalam Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. 

Pada pasal 6 ayat 3 dijelaskan bahwa penanaman modal asing meliputi:

  1. Penanaman Modal Asing yang dilakukan oleh pemerintah negara lain; 
  2. Penanaman Modal Asing yang dilakukan oleh warga negara asing atau badan usaha asing;
  3. Penanam Modal yang menggunakan modal asing yang berasal dari pemerintah negara lain, yang didasarkan pada perjanjian yang dibuat oleh Pemerintah dan pemerintah negara lain.

Tujuan Penanaman Modal

Perlu dipahami bahwa tujuan utama penanaman modal tidak hanya semata-mata untuk mendapatkan keuntungan.

Namun, tujuan penyelenggaraan penanaman modal yang sesungguhnya telah disebutkan secara gamblang dalam Pasal 3 ayat (2) UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dengan tujuan sebagai berikut: 

  1. meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional;
  2. menciptakan lapangan kerja;
  3. meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan;
  4. meningkatkan kemampuan daya saing dunia usaha nasional;
  5. meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional;
  6. mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan;
  7. mengolah ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil dengan menggunakan dana yang berasal, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri; dan 
  8. meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Jenis-jenis Penanaman Modal

Dalam kegiatannya, penanaman modal dalam negeri maupun penanaman modal asing terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu equity financing, debt financing, dan crowd-based financing.

  1. Equity Financing

Equity financing dapat diartikan sebagai penanaman modal yang dilakukan melalui penjualan saham pada suatu perusahaan atau entitas. Hal ini memungkinkan investor untuk mencari perusahaan dengan potensi pasar yang bagus untuk menanamkan modalnya di perusahaan tersebut.

  1. Debt Financing

Sederhananya, debt financing ini memperoleh modal dari hutang, baik itu berbentuk uang tunai maupun surat-surat berharga perusahaan, sehingga keuntungan yang didapatkan investor berasal dari pengembalian hutang dan bunga yang ada.

  1. Crowd-based Financing

Terakhir, ada Crowd-based Financing yang mengumpulkan dana usaha dari masyarakat secara kolektif. Ini tentunya menjadi hal baru yang terjadi dalam perkembangan pasar modal yang biasanya dilakukan melalui sosial media maupun internet.

Dengan beragam bentuk investasi, investor memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti yang telah diulas di bagian atas. Kepastian hak dan kewajiban yang sama merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menggerakkan iklim investasi baik investasi lokal maupun investasi asing di Indonesia. 

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.