Implikasi  APT bagi Investor

  • Share
implikasi APT bagi investor

Arbitrage Pricing theory atau APT adalah teori penetapan harga untuk sekuritas yang terjadi ketika ada ketidakseimbangan dalam pasar. Seorang investor dapat memperoleh keuntungan dari pembelian dan penjualan komunitas dalam waktu yang bersamaan di dua pasar yang berbeda. Misalnya, batu bara yang diperdagangkan di bursa saham Indonesia dan Singapura. 

Jika ternyata harga batu bara di Indonesia lebih murah daripada di Singapura, seorang arbitrase dapat membeli batu bara di Indonesia dan dijual lagi di pasar Singapura, dengan tujuan mendapatkan keuntungan.

Dalam pengaplikasiannya, tindakan ini membutuhkan informasi yang tepat dan sempurna. Biaya transaksi yang rendah atau mungkin bisa sampai nol, juga menjadi faktor penentu keberhasilan pengaplikasian APT untuk mendapatkan keuntungan yang diharapkan.

Praktik arbitrase ini untuk memastikan adanya kedekatan harga dalam pasar yang cenderung kompetitif. Seorang investor harus jeli dalam membaca situasi dan informasi dan mengaplikasikannya ke pasar. Karena jika investor dapat memanfaatkan informasi yang baik serta cepat tanggap atas keterlambatan penyebaran harga di pasar, maka keuntungan yang lebih besar bisa didapatkan.  

Teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Stephen ROSS di tahun 1976 ini, bekerja paling baik untuk asset yang diperdagangkan secara elektronik. Implikasi APT bagi Investor membuat investor dapat memprediksi harga suatu asset dengan menggunakan faktor dan indikator pasar. 

Ketika kita berbicara tentang APT dan pengimplikasiannya, maka kita harus membahas juga tentang CAPM. CAPM adalah Capital Asset Pricing Model. Selain APT, istilah CAPM ini juga harus dipahami oleh para investor.  CAPM adalah suatu teori yang menghitung bahwa sekuritas atau asset yang memiliki resiko mampu memberi keuntungan yang banyak. Investor menggunakan teori CAPM ini sebagai alat untuk memprediksi nilai keuntungan dari sekuritas dan resiko yang akan timbul. Dengan demikian investor dapat memperkirakan keuntungan atau laba yang bisa dihasilkan dari asset berharga yang dimilikinya.

Seperti yang kita ketahui bahwa pasar saham sangat kompleks dan rumit. Dengan pendekatan metode CAPM ini, para investor mendapatkan prediksi gambaran dari kejadian pasar. Dasar perhitungan metode CAPM adalah dengan memperhitungkan return dan risk yang dijadikan acuan untuk mendapatkan informasi besaran keuntungan yang akan mereka dapatkan. Jika kita menggunakan teori CAPM dalam berinvestasi, kita harus mengetahui beberapa istilah yang akan muncul yaitu risk free rate, expected return, return market dan perhitungan beta. Dalam teori ini, return dan risk investasi 

Perbedaan CAPM dan APT

Untuk para investor mengetahui dua teori ekonomi ini sangat penting. Keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu sebagai alat bantu prediksi untuk mendapatkan keuntungan secara maksimal dalam berinvestasi. 

Untuk beberapa kalangan, APT dianggap lebih beresiko karena hasil perkiraan APT berdasarkan pada harga yang diprediksikan didorong oleh faktor-faktor non perusahaan dan perusahaan. Untuk para investor, mendapatkan informasi-informasi terkait dengan hal ini akan sangat sulit. Sedangkan teori CAPM, perhitungan yang dipergunakan lebih terperinci dan jelas karena menggunakan satu faktor non perusahaan dan satu ukuran hubungan antara harga asset.

Perbedaan lain yang muncul dalam pendekatan teori ini adalah ketika kita menggunakan teori APT, akan memunculkan banyak prediksi-prediksi yang didasarkan pada banyak faktor yang dinilai. Sedangkan pada teori CAPM, prediksi yang akan muncul cenderung lebih fokus.

Pengaplikasian CAPM saat ini

Ketika dunia saham dan investasi, menggeliat dan berjalan dengan cepat. Apakah teori CAPM masih relevan digunakan sekarang ini? Tentu saja ini semua kembali lagi kepada pilihan yang diambil investor. Karena baik CAPM dan APT adalah sama-sama digunakan untuk tolok ukur perhitungan pengembalian asset dan resikonya.

APT yang digunakan dalam waktu relatif singkat memiliki kekurangan yang perlu dipertimbangkan. Sedangkan CAPM memerlukan lebih banyak waktu riset sehingga cenderung menghasilkan informasi yang lebih valid dan akurat.

CAPM masih bisa digunakan di dalam market yang lebih stabil. Untuk market dengan pergerakan yang cenderung cepat dan tidak stabil, metode pendekatan ini tidak akan dapat memberikan hasil yang maksimal. 

Dalam investasi, prinsip untuk mendapatkan laba yang besar berbanding lurus dengan kemungkinan resiko yang tinggi. Teori CAPM ini walaupun membutuhkan pendekatan-pendekatan empiris yang lebih rumit tetapi lebih valid untuk digunakan dengan mengacu prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.